Rabu, 25 November 2020, WIB
Breaking News

, 03 Feb 2009, 00:00:00 WIB, 16 View , Kategori : Tataruang

Jakarta, Kompas - Memasuki Februari yang merupakan puncak musim hujan, gangguan cuaca berupa angin kencang, petir dan hujan lebat masih akan terjadi di berbagai wilayah. Ditambah parahnya kerusakan lingkungan alam, banjir dan tanah longsor mengancam sejumlah wilayah.

Dijelaskan M Ali Mas'at, dari bagian Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) hingga seminggu mendatang cuaca buruk berupa hujan deras, petir dan angin kencang akan mengancam pesisir barat Sumatera hingga ke bagian tengah dan selatan pulau ini. Kondisi yang sama akan meluas ke Jawa bagian barat dan utara, sampai ke Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Untuk Kalimantan gangguan cuaca ini akan terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Adapun di Sulawesi cuaca buruk akan terjadi mulai dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Selatan.

Wilayah timur Indonesia yang menghadapi ancaman yang sama adalah Maluku Utara dan Tenggara, Papua bagian selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Karena itu boleh dibilang hampir semua wilayah di Indonesia bakal mengalami cuara buruk sepanjang bulan ini.

Endro Santoso, Kepala Bidang Informasi Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG mengatakan, tingginya curah hujan di berbagai wilayah atau zona prakiraan musim ini, tidak berkaitan dengan anomali cuaca dalam skala regional atau pengaruh angin monsun, tetapi disebabkan kondisi iklim dan cuaca lokal.

Cuaca lokal dan berskala harian dengan pola hujan pada malam hari dipengaruhi oleh ketinggian daratan yang berupa perbukitan dan adanya perbedaan pemanasan matahari.

Garis edar matahari saat ini masih berada di selatan khatulistiwa dan baru akan berada di garis khatulistiwa pada bulan Maret. ”Penyinaran matahari akan terus bergeser hingga berada di utara khatulistiwa sebulan kemudian,” ujarnya.

Di DKI Jakarta, curah hujan umumnya akan di atas normal. Demikian pula dengan kawasan hulu sungai seperti Bogor, Puncak dan Cianjur. Curah hujan di wilayah ini mencapai sekitar 300 milimeter selama Februari ini.

”Hal ini perlu diwaspadai terhadap kemungkinan banjir bandang dari hulu yang telah menurun tingkat vegetasinya,” ujar Endro.

Selain BMKG, kemampuan memprediksi iklim juga dimiliki Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berdasarkan Outgoing Longwave Radiation (OLR).

Kepala Bidang Pemantauan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Lapan, Orbita Roswintiarti, mengatakan, berdasarkan pemantauan OLR, Februari ini curah hujan yang tinggi terjadi di Sumatera bagian selatan, Jawa, Kalimantan, Sulawesi bagian selatan, dan Papua.

Di berbagai daerah

Berkaitan dengan tingginya curah hujan, saat ini di berbagai daerah sudah terjadi bencana banjir dan tanah longsor. Di Jawa Tengah, selain Bengawan Solo, Sungai Cikawung di Kabupaten Cilacap, juga meluap dan menyebabkan banjir.

Banjir yang disebabkan luapan Bengawan Solo di Kota Solo, Selasa kemarin mulai surut. Kendati demikian, melihat cuaca yang mendung dan hujan masih turun, sejumlah warga mengaku khawatir kembali terjadi banjir.

Di Kabupaten Blora, banjir Senin kemarin semakin besar dan meluas. Sekitar pukul 10.00, banjir menggenangi sawah dan memaksa ribuan warga mengungsi ke pinggiran rel kereta api.

Berdasarkan data sementara Kecamatan Cepu, banjir merendam 14 hektar sawah di Kelurahan Sumberpitu dan Nglanjuk. Banjir juga mengakibatkan 828 rumah penduduk di Kelurahan Balun, Cepu, Nglanjuk, dan Sumberpitu, tergenang air dengan ketinggian 30-100 sentimeter.

Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Yusuf Muttaqin dan Agus Hari Wahyudi mengemukakan, banjir yang terjadi di Kota Solo disebabkan, antara lain curah hujan yang cukup tinggi dan diperparah oleh perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Di sisi lain, dan kapasitas sungai berkurang akibat sedimentasi. “Untuk Solo bagian utara, banjir juga disebabkan sistem drainase yang menurun fungsinya,” ujar Yusuf.

Akibat meluapnya Sungai Cikawung, setidaknya 900 keluarga di Kecamatan Majenang, Cimanggu, Cipari, dan Wanareja, Kabupaten Cilacap, mengungsi karena rumah mereka terendam banjir setinggi rata-rata 1 meter.

Sawah terendam

Di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sejak Sabtu sekitar 600 hektar sawah di delapan desa di Kecamatan Grabag, terendam banjir, air bercampur lumpur. Kerugian dari kerusakan tanaman padi yang ditimbulkan dari bencana tersebut, diperkirakan mencapai Rp 493.200.000. ”Karena tertutup lumpur, tanaman sulit diselamatkan,” kata Camat Grabag Fatkhurahman.

Di Jawa Timur, hujan deras yang turun sejak Minggu menyebabkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi sebagian wilayah Kabupaten Jember, Magetan, Ponorogo, dan Kabupaten Bojonegoro.

Luapan Bengawan Solo di Bojonegoro sampai Senin pukul 16.00 telah merendam 85 desa di 15 kecamatan. Banjir merendam 3.269 rumah dan lebih 2.800 hektar tanaman padi, jagung, kedelai, dan kacang tanah. Selain itu, enam SD di Kecamatan Trucuk dan tiga SD di Kecamatan Padangan terendam, serta tiga masjid dan tujuh mushala di Kecamatan Padangan.

Banjir juga melanda Kabupaten Magetan akibat meluapnya Sungai Ulo, anak Bengawan Madiun. Banjir menggenangi 426 rumah dan 67 hektar sawah di Kecamatan Kartoharjo.

Di Kabupaten Jember, banjir susulan merendam sedikitnya 402 rumah di Desa Kraton dan 700 rumah di Desa Paseban, serta 650 hektar lahan pertanian.

Di Surabaya, Penjabat Gubernur Jatim Setia Purwaka, Senin, meminta semua pejabat terkait penanggulangan bencana bersiaga 24 jam dan tidak mematikan telepon genggam.

Di Jakarta, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Departemen Pertanian Ati Wasiati mengatakan, secara nasional, terdapat 14.342 hektar luas tanaman padi yang puso dari total 123.801 hektar tanaman padi yang terkena banjir pada musim hujan 2008/2009.

Kepala Bidang Data dan Informasi Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Priyadi Kardono mengatakan, dana siap pakai yang siap digunakan tim reaksi cepat BNPB untuk penanggulangan banjir sekitar Rp 22,5 miliar. (YUN/NAW/EKI/GAL/MDN/SON/HEN/SUP/SIR/ INA/ACI/APA/MAS)



Bencana Masih Akan Terjadi
, 03 Feb 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 16 Kali
Maaf, Bencana Masih Mengancam
, 02 Des 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 27 Kali

Tuliskan Komentar