Minggu, 29 November 2020, WIB
Breaking News

, 05 Des 2008, 00:00:00 WIB, 22 View , Kategori : Tataruang

Andoolo, Kompas - Ekosistem di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara, rusak akibat perambahan, penebangan liar, dan rencana pembukaan tambang nikel. Ekosistem itu harus diselamatkan karena keseimbangan hidrologi di Kendari, Konawe, Konawe Selatan, Kolaka, dan Bombana akan terganggu.

Adjat Sudradjat, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) Wilayah I, di Andoolo, Kamis (4/12), menyebutkan, perambahan terjadi di Kecamatan Basala, Ladongi, dan Watumohai. Bahkan, di sejumlah desa telah dibuat jalan memotong taman nasional. Di pinggir jalan, muncul permukiman dan kebun-kebun kakao.

”Perambahan hutan sangat mengkhawatirkan karena berpotensi merusak ekosistem rawa. Jika rawa kering, fungsi penyimpan air rusak,” ujar Adjat.

Ia menilai pemerintah daerah kurang peduli dengan perambahan hutan. Masyarakat yang tinggal di dalam taman nasional malah dipungut Pajak Bumi dan Bangunan.

Saat ini usaha yang dilakukan adalah mempertahankan kawasan yang masih ada. Selain itu, mengawasi perambah agar tidak membuka lahan baru.

Budi Prasetyo, Ketua Kelompok Kerja Perencanaan dan Evaluasi, Balai TNRAW, menambahkan, perambahan hutan terjadi sejak awal 1980. Perambah hutan bertambah marak pada 1991 dan saat ini luas hutan yang telah dibuka masyarakat sekitar 10.000 hektar. Masyarakat memanfaatkan lahan untuk permukiman dan kebun kakao.

TNRAW terletak di Sultra dan termasuk dalam wilayah meliputi Kabupaten Kolaka, Konawe, Konawe Selatan, dan Bombana. Luas TNRAW menurut Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 756/ Kpts-II/1990 adalah 105.194 hektar. TNRAW memiliki empat ekosistem, yaitu rawa gambut, mangrove, savana, hutan hujan dataran rendah, dan pegunungan.

Menurut Budi, tekanan terhadap TNRAW semakin besar dengan adanya keinginan Pemerintah Provinsi Sultra untuk menurunkan status kawasan konservasi di TNRAW. Jika perbukitan dibuka untuk pertambangan, masyarakat di Kendari, Konawe, Konawe Selatan, Kolaka, dan Bombana akan kesulitan air bersih.

Ekosistem rawa menampung air dari perbukitan Ndolusamba dan Makaleleo yang mengelilinginya. Genangan air seluas 30.000 hektar, 12.000 hektar di antaranya di dalam TNRAW, lalu mengalir melalui Sungai Konaweha dan Aopa sebelum bersatu menjadi Sungai Sampara yang bermuara di Laut Banda. (ang)



TN Rawa Aopa Rusak
, 05 Des 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 22 Kali
SEPULUH PERUSAHAAN BERMINAT MERESTORASI EKOSISTEM
, 28 Okt 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 30 Kali

Tuliskan Komentar