Kamis, 26 November 2020, WIB
Breaking News

, 02 Des 2008, 00:00:00 WIB, 30 View , Kategori : Tataruang

Jakarta, Kompas - Bertahun-tahun dikenal sebagai kawasan wisata dan penyuplai kentang, dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, butuh dukungan bagi upaya rehabilitasi lahan. Saat ini ribuan hektar kawasan, termasuk Daerah Aliran Sungai Serayu, dalam kondisi kritis.

Ribuan jiwa bergantung pada pertanian kentang di lereng berkemiringan lebih dari 60 derajat itu. Selain kesuburan tanah turun, bencana banjir dan longsor terjadi setiap musim hujan seperti saat ini.

”Dieng butuh rehabilitasi segera sebelum terlambat,” kata Bupati Wonosobo Kholiq Arif dalam Lokakarya dan Temu Donor Program Pemulihan Dieng ”Karena Dieng Membutuhkan Anda”, yang difasilitasi Yayasan Pembangunan Berkelanjutan, Kemitraan, dan Java Learning Center (Javlec) di Jakarta, Senin (1/12). Tahun 2007, Bupati Wonosobo membentuk Tim Kerja Pemulihan Dieng (TKPD).

Data TKPD menunjukkan, dari 7.758 hektar lahan kritis, 4.000 hektar di antaranya menjadi lahan pertanian kentang Kabupaten Wonosobo dan sekitar 3.700 hektar lainnya masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Rehabilitasi lahan mutlak untuk mencegah bencana, penggurunan lahan, menjaga ketahanan pangan, dan mempertahankan suplai energi.

Ancaman lebih luas

Kerusakan kawasan Dieng diyakini mengganggu suplai air, energi listrik, dan irigasi di lebih dari enam kabupaten.

Sejauh ini upaya rehabilitasi masih terkendala sejumlah hal, termasuk pendanaan. ”Di lapangan, empat desa sudah menerapkan pertanian konservasi dengan model terasering, penanaman rumput di pematang, serta menanam tanaman tahunan,” kata pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, yang juga anggota TKPD, Agus Affianto.

Dua tahun berjalan, upaya rehabilitasi lahan diakui masih belum lancar. Karena itu, penggalangan dukungan publik mutlak diperlukan.

”Dibutuhkan penjelasan yang lebih mudah diterima warga bahwa harus ada perubahan demi keberlanjutan jasa lingkungan,” kata pengajar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bramasto Nugroho, yang meneliti manfaat ekonomi, ekologis, dan kerugian atas kerusakan sumber daya lahan dan hutan kawasan Dieng. (GSA)



Rehabilitasi Kawasan Dieng Butuh Dukungan
, 02 Des 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 30 Kali

Tuliskan Komentar