Rabu, 25 November 2020, WIB
Breaking News

, 12 Nov 2008, 00:00:00 WIB, 29 View , Kategori : Tataruang

Samarinda, Kompas - Banjir yang merendam tiga kecamatan di Samarinda, Kalimantan Timur, selama lima hari merupakan akibat penggundulan hutan dan pembukaan lahan untuk pertambangan batu bara. Hal itu menyebabkan Daerah Aliran Sungai atau DAS Karangmumus di Samarinda kritis.

Demikian penilaian sejumlah akademisi dan aktivis lembaga swadaya masyarakat pemerhati lingkungan hidup di Samarinda, Selasa (11/11).

Penggundulan hutan membuat Sungai Karangmumus tidak mampu menampung kiriman air hujan dari daerah hulu. Akibatnya, air meluap dan menggenangi Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda Ulu, dan Samarinda Ilir di DAS Karangmumus.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Air Lembaga Penelitian Universitas Mulawarman, Mislan, luas DAS Karangmumus 32.500 hektar. Namun, luas hutan yang tersisa hanya 250 hektar.

Padahal, di DAS Karangmumus tinggal 250.000 jiwa dari 600.000 jiwa penduduk Samarinda. Sungai itu merupakan sumber air bagi pertanian Kelurahan Lempake yang merupakan lumbung padi Samarinda.

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang Kaltim, Kahal Al bahri, menyatakan, lingkungan Samarinda rusak akibat 66 persen luas wilayah menjadi tambang.

Kepala Kantor Pertambangan Samarinda Rusdi AR mengakui, ada 46 izin kuasa pertambangan dari wali kota dan tiga izin tambang batu bara dari pemerintah pusat.

Sementara itu, hujan deras yang berlangsung sejak Senin malam hingga Selasa pagi di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mengakibatkan Sungai Tebaung meluap. Ribuan rumah panggung di lima desa di Kecamatan Bunut Hulu dan empat desa di Bunut Hilir terendam banjir setinggi 1,5 meter. Air masuk rumah setinggi lutut.

Kepala Subbagian Perlindungan Masyarakat dan Pembinaan Potensi pada Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kapuas Hulu Benardi SN yang juga Koordinator SAR Kapuas Hulu menyatakan, di setiap desa ada 250-300 rumah yang terendam. ”Wilayah dekat sungai rawan banjir. Setahun bisa terjadi 3-4 kali banjir yang surut dalam 3-5 hari,” katanya.

Kepala Seksi Observasi Badan Meteorologi dan Geofisika Pontianak Hazaim memperkirakan, puncak musim hujan di Kalimantan Barat tahun ini dimulai pada pertengahan November.

Tujuh kabupaten di Kalbar berpotensi dilanda banjir adalah Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Sanggau, Landak, Sambas, Kubu Raya, dan Bengkayang. Hal itu akibat kritisnya DAS.

Dari total luas DAS di Kalbar 14,86 juta hektar, sebanyak 13,31 juta hektar dalam kondisi sangat kritis sampai potensial kritis. Upaya rehabilitasi lahan selama 2004-2006 baru mencapai 40.090 hektar.

Dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, dilaporkan, tiga rumah di Desa Berta, Kecamatan Susukan, tertimpa tebing longsor, Selasa pukul 15.30. Peristiwa itu terjadi setelah hujan mengguyur Banjarnegara dan sekitarnya sejak Selasa siang.

Tiga rumah yang roboh itu milik Watinem (55), Maryadi (49), dan Agus (40). Tidak ada korban jiwa atau luka dalam peristiwa itu. Menurut Kepala Desa Berta Suwito, kerugian warga ditaksir sekitar Rp 15 juta.

Selain menyebabkan longsor, hujan juga membuat air Kali Sapi meluap. Seorang warga, Denan (20), hanyut. Hingga berita ini diturunkan, nasib Denan belum diketahui.

Sebagai antisipasi banjir, di 10 titik sepanjang aliran Bengawan Solo, mulai Bojonegoro hingga Gresik, Jawa Timur, dipasangi sirene peringatan dini.

Pengaktifan sirene dimulai sejak Senin lalu untuk mengetahui banjir lebih awal,” kata Koordinator Pengendalian dan Pengamanan Balai Pengelolaan Sumber Daya Alam Wilayah Bengawan Solo, Moelyono, Selasa di Bojonegoro. Suara sirene bisa didengar hingga radius satu kilometer. (BRO/WHY/CAS/HAN/ACI)



Banjir akibat DAS Kritis
, 12 Nov 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 29 Kali

Tuliskan Komentar