Sabtu, 28 November 2020, WIB
Breaking News

, 30 Agu 2017, 00:00:00 WIB, 16 View , Kategori : Tataruang

Jakarta, (28/8). Direktorat Pengairan dan Irigasi Bappenas menyelenggarakan diskusi Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air yang Bertahan, Berkelanjutan dan Holistik di ruang SG 1-2 Kementerian PPN/Bappenas pada Senin (28/8). Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka pembinaan konstruksi nasional dan penyusunan kebijakan perencanaan pembangunan nasional bidang pengairan dan irigasi.

Salah satu pembicara, Prof Emil Salim menjelaskan bahwa Pulau Jawa sebagai pusat pertumbuhan di Indonesia telah mengalami tekanan yang luar biasa dari jumlah penduduk. Tekanan jumlah penduduk di Pulau Jawa mengakibatkan konflik lahan untuk ketahanan pangan dengan pemukiman, masalah tersebut diperparah dengan tantangan perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan muka air laut yang kemudian menyebabkan daerah utara Pulau Jawa terancam tenggelam. Diharapkan kedepannya Bappenas dapat memberikan solusi untuk permasalahan kenaikan muka air laut di Pulau Jawa terutama di Jakarta adalah pembuatan tanggul laut melalui perencanaan pembangunan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan tata ruang.

Bambang Priambodo, Staf Ahli Menteri PPN Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur memaparkan visi pembangunan Indonesia tahun 2045. Visi pembangunan Indonesia adalah menjadi negara yang berdaulat, maju, adil dan makmur yang didukung pada  empat pilar utama yaitu Pembangunan SDM dan Penguasaan IPTEK, Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, Pemerataan Pembangunan serta Ketahanan Nasional dan Tata Kelola Pemerintah. Salah satu fokus pembangunan dalam bidang pengairan dan irigasi adalah pembangunan waduk irigasi untuk ketersedian air bersih dan pengembangan water front city.

John Irawan perwakilan dari pihak swasta menjelaskan contoh teknis dan solusi pembangunan berkelanjutan. Selama ini pembangunan di kawasan pesisir DKI Jakarta kurang memperhatikan aspek lingkungan sehingga Kota Jakarta terancam tenggelam. Contoh solusi konkritnya adalah dengan pembuatan tanggul laut di Jakarta atau NCICD, dimana NCICD akan merevitalisasi sumber air bersih di Jakarta, mengurangi dampak kenaikan muka air laut, menjadi kolam retensi yang besar sehingga Jakarta akan bebas banjir dan mendapatkan tambahan lahan baru untuk pemukiman dan perkantoran.

Pembicara lain, Anwar Kurniawan memaparkan kejadian garam produksi petani Indonesia yang semakin langka. Permasalahan utamanya adalah jumlah hari hujan di Indonesia cukup banyak sehingga produksi garam di Indonesia hanya maksimal di musim kemarau. Dari permasalahan kondisi iklim tersebut diperlukan teknologi tepat guna yang dapat memaksimalkan produksi garam meski di bulan penghujan. Teknologi tepat guna yang ditawarkan adalah bangunan prisma sama sisi yang terbuat dari bambu untuk melindungi tambak garam dari hujan dan memaksimalkan proses dehidrasi air laut.

Di akhir acara, Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas berpesan bahwa pembangunan yang berjalan harus ada kesatuan pandangan dan kordinasi lintas sektor agar pembangunan infrastruktur sumber daya air yang keberlanjutan dapat diwujudkan demi bangsa Indonesia. [Subdit Infosos]



Menjaga Kawasan Konservasi dengan Rencana Tata Ruang Taman Nasional Kerinci Seblat
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:23:55 WIB, Dibaca : 18 Kali
FGD Kajian Strategi Komunikasi dan Sosialisasi RPJMN 2020 bidang Tata Ruang Pertanahan dan Informasi Geospasial
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:24:18 WIB, Dibaca : 20 Kali
Identifikasi Capaian Pelaksanaan Reforma Agraria di Provinsi Sulawesi Utara
Selasa, 28 Apr 2020, 06:46:21 WIB, Dibaca : 14 Kali

Tuliskan Komentar