Senin, 30 November 2020, WIB
Breaking News

, 13 Okt 2008, 00:00:00 WIB, 34 View , Kategori : Tataruang

Jakarta, Kompas - Selain memicu berbagai masalah sosial, arus urbanisasi yang terus meningkat di Jakarta juga menimbulkan masalah lingkungan yang parah. Pertambahan ruang terbuka hijau atau RTH di Jakarta terhambat oleh banyaknya pendatang liar yang memanfaatkan taman dan lahan kosong.

Menurut Pengamat Tata Kota Universitas Tri Sakti Yayat Supriatna, Jumat (10/10), para pendatang yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal yang tetap cenderung memasuki taman-taman atau lahan-lahan milik pemerintah yang tidak terpelihara dengan baik. Mereka mengubah RTH menjadi kawasan permukiman.

Lahan-lahan marjinal, seperti kolong tol dan tepian rel kereta api, juga banyak yang dicaplok para pendatang ilegal menjadi rumah. Kondisi itu menyebabkan rencana Pemprov DKI Jakarta untuk menambah RTH terhambat.

”Jangankan menambah, mempertahankan RTH yang sudah ada saja pemerintah kesulitan. Pengambilalihan lahan sulit dibendung karena Pemprov DKI tidak mampu membangun rumah susun yang murah untuk menampung ratusan ribu pendatang ilegal,” kata Yayat.

Yayat mengatakan, pemprov harus lebih ketat menjaga dan memelihara aset-aset tanahnya. Pemagaran dan pembersihan permukiman liar dari tanah-tanah yang akan dijadikan taman harus segera dilakukan.

Di sisi lain, taman-taman dan lahan marjinal yang telanjur dikuasai para pemukim liar harus segera dibersihkan kembali. RTH sangat dibutuhkan Jakarta untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan.

”Jika pemukim liar ditertibkan, kolong tol dan tepian rel kereta api sangat potensial diubah menjadi taman. Namun, taman itu harus dijaga agar tidak diambil alih lagi,” kata Yayat.

Saat ini, luas RTH di Jakarta baru mencapai 9,6 persen dari total luas Jakarta atau sekitar 6.240 hektar. Luas RTH itu jauh di bawah kondisi ideal yang diamanatkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007, yang harus mencapai 30 persen atau 19.500 hektar.

Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta Ery Basworo mengatakan, sampai 2010, DKI Jakarta hanya berani menargetkan pertambahan RTH sampai 13,9 persen atau sekitar 9.035 hektar. Namun, penambahan RTH masih terbentur pada masalah tingginya harga lahan dan okupasi permukim liar pada lahan-lahan kosong yang ada.

Pada 2008, penambahan lahan untuk RTH di lima kota hanya mencapai 0,008 persen. Dengan keterbatasan anggaran, penambahan luas RTH sesuai target bakal sulit dicapai. (ECA)



Urbanisasi Hambat Pertambahan Ruang Terbuka
, 13 Okt 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 34 Kali

Tuliskan Komentar