Rabu, 25 November 2020, WIB
Breaking News

, 05 Apr 2016, 00:00:00 WIB, 14 View , Kategori : Tataruang

Malang, (31/3). Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Jejaring Kabupaten-Kota Kreatif Indonesia, Pemkot Malang, dan komunitas Malang Creative Fusion (MCF) menyelenggarakan konferensi Indonesia Creative Cities Conference 2 (ICCC2) pada 31 Maret-1 April 2016 di Malang, Jawa Timur.

Dibuka oleh Walikota Malang, dalam dialog disampaikan bahwa telah terbentuk beberapa forum dan jejaring Kota Kreatif, dimana wadah ini dibentuk secara partisipatif oleh komunitas, baik di tingkat Kabupaten/Kota, maupun secara nasional melalui Indonesia Creative City Network (ICCN) atau Jejaring Kota/Kabupaten Kreatif Indonesia (JK3I).

Konteks pembangunan Kota Kreatif di Indonesia dilaksanakan berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo dimana Ekonomi Kreatif harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Sejalan dengan itu, berdasarkan Perpres No. 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015 -2019 yang memuat kebijakan umum dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif, diharapkan hal ini dapat meratakan pembangunan daerah  dan mendorong percepatan pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi dengan menggali potensi daerah.

Tujuan konsep pembangunan Kota Kreatif Indonesia adalah memberikan gambaran besar dan menetapkan koridor bagi pembangunan Kota Kreatif di Indonesia, sedangkan fungsinya menjadi rujukan bagi pembangunan Kota Kreatif di Indonesia yang dilakukan oleh lintas pelaku (pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas kreatif).

Yang membedakan Kota Kreatif dari konsep kota lainnya seperti liveable city, green city & resilent, smart dan competitive city adalah bahwa Kota Kreatif mempunyai 3 hal kriteria yaitu: 1) fokus kepada pengembangan ide dan kreativitas; 2) Eksistensi komunitas kreatif (bottom-up); dan 3) Rantai nilai kreasi-produksi-distribusi-konsumsi-konservasi. 

Hal ini menjadikan Kota Kreatif mempunyai kata kunci dalam pengembangannya yaitu:
•    Ide, kreativitas, keterampilan, bakat (orang kreatif)
•    Peran penting komunikas kreatif (community leads, government facilitates)
•    Potensi lokal (SDM, budaya, komoditas)
•    Keunggulan dan identitas daerah
•    Penciptaan nilai tambah, pada umumnya melalui pemanfaatan iptek
•    Berkelanjutan, dari aspek lingkungan, sosial dan ekonomi
•   Pemenuhan setiap tahap dalam proses kreasi-produksi-distribusi-konsumsi-konservasi, konsekuensi berjejaring.

Kota Kreatif yang berbasis pada potensi lokal sebagai keunggulan dan identitas daerah perlu didorong untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing, serta mampu menjadi pusat pertumbuhan bagi daerah (hinterland) sekitarnya. Selain itu, sebuah Kota Kreatif juga harus dapat membangun ekosistem yang kondusif bagi pengembangan inovasi di daerah.

Sebagai sebuah upaya untuk mendorong akselerasi pengembangan Kota Kreatif di Indonesia, diperlukan sinergi dan kolaborasi bersama quadruple-helix sehingga masing-masing daerah mampu memetakan dengan jelas basis yang menjadi keunggulannya dan dapat menentukan langkah strategis dan prioritas program yang ideal sehingga mampu mendorong peningkatan ekonomi dan daya saing di daerah. [SY]



Menjaga Kawasan Konservasi dengan Rencana Tata Ruang Taman Nasional Kerinci Seblat
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:23:55 WIB, Dibaca : 14 Kali
FGD Kajian Strategi Komunikasi dan Sosialisasi RPJMN 2020 bidang Tata Ruang Pertanahan dan Informasi Geospasial
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:24:18 WIB, Dibaca : 18 Kali
Identifikasi Capaian Pelaksanaan Reforma Agraria di Provinsi Sulawesi Utara
Selasa, 28 Apr 2020, 06:46:21 WIB, Dibaca : 13 Kali

Tuliskan Komentar