Senin, 23 November 2020, WIB
Breaking News

, 23 Sep 2008, 00:00:00 WIB, 38 View , Kategori : Tataruang

Samarinda, Kompas - Seluas 146.080 hektar dari 198.629 hektar Taman Nasional Kutai, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, dirambah masyarakat. Perambahan yang terjadi sejak tahun 2000 itu kini kian marak.

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bahkan telah mengusulkan agar luasan Taman Nasional (TN) Kutai dikurangi 23.712 ha untuk pengembangan wilayah.

Menurut Kepala Balai TN Kutai Tandya Tjahjana di Kota Bontang, Senin (22/9), penyelesaian masalah itu masih dirumuskan tim terpadu dan akan diputuskan oleh DPR karena terkait pelepasan status hutan.

Penguasaan lahan terjadi sejak awal 2000, tidak lama setelah Jalan Raya Bontang menuju Sangatta, ibu kota Kutai Timur, dibangun. Pendatang dari luar pulau mulai membabat hutan untuk dijadikan ladang dan mendirikan pondok-pondok kayu di sekitar jalan raya itu.

Selain itu, ada perambahan oleh warga yang mengaku suku asli Kalimantan sejak Mei 2007 dengan pola seperti pendatang dari luar pulau.

Permukiman warga telah berkembang menjadi tujuh desa dalam dua kecamatan. Hal itu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. ”Kawasan konservasi seharusnya bebas dari permukiman,” kata Tandya.

Agus Budiono, mantan Kepala Balai TN Kutai, mengatakan, pihaknya pernah melihat surat permohonan izin pertambangan batu bara di lahan seluas 93.749 ha atau 47 persen luas TN Kutai.

Batu bara TN Kutai berkalori tinggi dengan nilai 6.000-7.000 dan diperkirakan berharga sekitar 270 miliar dollar AS.

Sementara itu, kerusakan hutan di Sumatera Selatan tahun 2007, berdasarkan data Dinas Kehutanan Sumsel, mencapai 62 persen. Luas hutan di Sumsel adalah 4,4 juta ha.

Ketua Divisi Hutan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumsel Anwar Sadat, Senin di Palembang, mengatakan, penyebab utama kerusakan hutan di Sumsel adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Masyarakat yang melakukan perambahan juga merusak hutan, tetapi luasnya tidak sebanding dengan pengalihan lahan oleh perusahaan perkebunan.

Menurut Anwar, dengan mengalihkan fungsi hutan, perusahaan perkebunan untung dua kali. Pertama, perusahaan memperoleh kayu dari hutan. Kedua, untung dari hasil perkebunan.

”Seharusnya Pemerintah Provinsi Sumsel mendorong sistem pengelolaan hutan bersama masyarakat seperti di Lampung, Sumut, dan Aceh,” katanya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumsel Dwi Setiyono menyatakan, pengalihan kawasan hutan di Sumsel sudah berlangsung lama sehingga hutan yang tersisa tinggal sedikit.

Menurut Dwi, kegiatan pembalakan hutan masih terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin. Namun, skala pembalakan hutan itu kecil ketimbang di Riau.

Hutan kota terancam musnah

Terkait rencana pemanfaatan sebagian hutan kota Bandung, Babakan Siliwangi, untuk rumah makan yang akan dibangun PT Esa Gemilang Indah, Senin pagi, 12 orang yang mengatasnamakan aktivis Gerakan Pembibitan, Penanaman, Pemeliharaan, dan Pengawasan Lingkungan Hidup menebangi semak belukar di Babakan Siliwangi. Beberapa pohon ikut ditebang. Hasil tebangan kemudian dibakar di tempat. Menurut koordinator aktivis, Memed Ahmad, tindakan itu untuk mempersiapkan penanaman 1.920 pohon baru pada musim hujan Oktober nanti.

Sebaliknya, para aktivis lingkungan dan seniman Bandung, seperti Rahmat Jabaril, Tisna Sanjaya, Andarmanik, Gustaff H Iskandar, dan Wawan Juanda, yang mengetahui hal itu berupaya menghentikan penebangan. Selasa ini mereka akan menanam pohon untuk mengembalikan kondisi Babakan Siliwangi.

Menurut anggota Dewan Pakar dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Supardiyono Sobirin, bila hutan kota hancur, Bandung mudah dilanda banjir. Babakan Siliwangi merupakan bagian dari kawasan Bandung utara dan ekor dari lembah Cikapundung yang berfungsi sebagai daerah luahan (penampungan) air hujan. Kondisi lembah Cikapundung telah rusak, daerah Punclut dan Dago Pakar sebagian besar telah beralih fungsi menjadi permukiman dan komersial, tinggal Babakan Siliwangi yang diandalkan untuk menangkal banjir.

Menurut Sobirin, selama tiga tahun terakhir setiap musim hujan Sungai Cipaganti yang berada di bawah Punclut meluap. Ratusan rumah di Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap, terendam air dan lumpur. Jika Babakan Siliwangi rusak, daerah genangan banjir akan lebih luas.

Sebaliknya, pada musim kemarau, warga makin kesulitan air bersih. Suhu udara di Bandung juga makin meningkat. Jika 15 tahun lalu suhu di Bandung maksimal 27 derajat Celsius, kini mencapai 34 derajat Celsius.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengingatkan, degradasi lingkungan di Kota Bandung harus ditangani secara serius. (BRO/WAD/MHF)



Taman Nasional Kutai Terus Dirambah
, 23 Sep 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 38 Kali

Tuliskan Komentar