Sabtu, 28 November 2020, WIB
Breaking News

, 10 Sep 2008, 00:00:00 WIB, 51 View , Kategori : Tataruang

Banda Aceh, Kompas - Lembaga swadaya masyarakat kembali mendesak Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam untuk menghentikan alih fungsi lahan di Rawa Tripa, Kabupaten Nagan Raya. Pemerintah juga didesak untuk tidak mengeluarkan izin konversi lahan kembali.

Kondisi hutan rawa gambut yang tersisa saat ini dalam keadaan yang memprihatinkan karena tiap tahun terus dikonversi menjadi perkebunan sawit, baik itu milik swasta maupun proyek pemda setempat.

Demikian dikatakan Direktur Program Yayasan Leuser Internasional (YLI) Yuswar Yunus di Banda Aceh, akhir pekan lalu.

”Jika kawasan rawa itu musnah, penduduk setempat akan merasakan secara langsung akibat dari ancaman bencana alam yang terjadi. Keuntungan menanam sawit tidak akan sebanding dengan kerugian akibat kehancuran ekologis kelak,” kata Yuswar Yunus.

Yuswar mengatakan, jika pemerintah dan masyarakat tetap mengalihfungsikan hutan rawa gambut yang ada di kawasan tersebut menjadi areal perkebunan kelapa sawit, diperkirakan paling lambat 20 tahun ke depan kawasan dataran rendah Tripa akan tenggelam. Kota Alue Bilie dan Babah Rot akan menjadi batas garis pantai Samudra Hindia.

Perkiraan ini berdasarkan hasil penelitian para ahli lingkungan yang menyatakan, jika hutan rawa gambut dibuka, akan terjadi pencucian gambut dan penurunan permukaan tanah. Pada tahun pertama kehilangan lapisan gambut dapat mencapai 60 sentimeter, kemudian setiap tahunnya 2-5 sentimeter.

Ketinggian kawasan hutan rawa gambut Tripa diperkirakan 2 meter dari permukaan laut. Jika penurunan permukaan gambut per tahun 5 sentimeter, dalam waktu 28 tahun terjadi penurunan permukaan gambut 140 sentimeter dan ditambah 60 sentimeter penurunan pada tahun pertama sehingga dalam waktu 29 tahun akan terjadi penurunan permukaan tanah gambut sedalam dua meter.

Yuswar menyatakan, jika penghancuran Rawa Tripa tidak dicegah, diperkirakan pada 2025 air laut akan menenggelamkan kawasan ini. Ancaman ini, tambahnya, akan dipercepat oleh pemanasan global yang memicu naiknya permukaan air laut.

Data YLI menyebutkan, kalau pengalihfungsian lahan terus terjadi, pusat keanekaragaman hayati yang berada di Rawa Tripa diyakini akan punah. Luas lahan perkebunan kelapa sawit yang ada di kawasan ini, yaitu 38.150 hektar, akan tenggelam. Begitu juga dengan adanya kemungkinan punahnya 40 jenis ikan bernilai ekonomis tinggi dan Pemerintah Provinsi Aceh akan kehilangan 63.228 hektar wilayah daratan.

Selain itu, pengeringan rawa gambut dan pembakaran lahan yang dilakukan perusahaan perkebunan sawit juga telah memicu peningkatan emisi rumah kaca akibat pelepasan karbon. Hutan rawa gambut memiliki kandungan unsur karbon yang sangat besar.

Tersisa tiga

Saat ini di Pulau Sumatera hanya tersisa tiga kawasan hutan rawa gambut, yakni Rawa Singkil di Aceh Singkil, Rawa Kluet di Aceh Selatan, dan Rawa Tripa di Nagan Raya dan Abdya. Meski demikian, perlindungan dilakukan dengan menjadikan Rawa Singkil sebagai kawasan Suaka Margasatwa dan Rawa Kluet masuk ke dalam Taman Nasional Gunung Leuser. Adapun Rawa Tripa masih berstatus APL sehingga membuka peluang untuk terus dikonversi. Meski begitu, semua pihak diingatkan bahwa rawa gambut merupakan kawasan lindung di luar kawasan hutan yang tetap harus dipertahankan kelestariannya.

Hal yang sama pernah diungkapkan Kepala Badan Pengelola Ekosistem Leuser Fauzan Azima. Dia menyatakan, pemerintah harus mengambil tindakan tegas untuk menghentikan peralihan fungsi lahan itu sampai ada dokumen amdal yang jelas mengatur segala bentuk konsekuensinya.

”Peralihan fungsi lahan tanpa ada dokumen amdal yang sah bertentangan dengan berbagai peraturan tentang lingkungan hidup. Pemerintah harus bersikap tegas terhadap hal ini,” ujarnya.

Fauzan mengatakan, alih fungsi lahan, terutama kawasan rawa, tanpa mengindahkan situasi dan kondisi ekosistem yang ada di sekitarnya akan memiliki dampak buruk terhadap masa depan di lingkungan itu sendiri. Rawa, menurut Fauzan, seharusnya tetap sebagai kawasan penyerapan air atau reservoir. (MHD)



Jalan Tol Trans-Jawa Harus Sesuai Amdal
, 20 Nov 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 41 Kali
Trans-Jawa Sudah Dipikirkan Matang
, 18 Nov 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 32 Kali
Perlu Jeda Alih Fungsi Lahan
, 22 Okt 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 40 Kali

Tuliskan Komentar