Selasa, 24 November 2020, WIB
Breaking News

, 25 Agu 2015, 00:00:00 WIB, 14 View , Kategori : Tataruang

Sintang (19/8). Kegiatan FGD dan survey lapangan ini merupakan kegiatan Prakarsa Strategis yang berinduk di Direktorat Perkotaan dan Perdesaan, Bappenas. Dipimpin oleh Kepala Pusdatin Bappenas dan Kepala Bappeda Kabupaten Sintang, FGD ini bertujuan menyampaikan konsep Perancangan Kota Baru di Kabupaten Sintang dan mengidentifikasi berbagai isu yang ada.

Lokasi Perancangan Kota Baru di Kabupaten Sintang adalah di Kecamatan Sintang yang merupakan ibukota dari Kabupaten Sintang (selanjutnya disebut Kota Sintang), berupa pengembangan kota tepian sungai (water front city), yang difokuskan pada revitalisasi kawasan tepian sungai.

Kabupaten Sintang menjadi pintu gerbang jalur logistik dan manusia (outlet) dari dan ke Kawasan Perbatasan, Sarawak dan Brunei Darussalam melalui jalan darat. Posisinya yang terletak di perbatasan dengan Negara Malaysia, menjadikan Kota Sintang sangat berpotensi untuk menjadi kawasan singgah bagi kendaraan yang melintasinya. Kabupaten Sintang juga menjadi beranda atau wajah dari Negara Republik Indonesia. Adanya Sungai Kapuas dan Sungai Melawi yang melalui Kota Sintang, menjadikan kota ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai kota tepian sungai (water front city).

Kota Sintang dibagi ke dalam 3 zona BWK:
•  Zona A merupakan zona yang akan dikembangkan untuk kawasan perdagangan dan jasa. Pada zona ini dapat ditemukan pasar-pasar dan bangunan ruko di pinggir Sungai Kapuas dan Sungai Melawi.
•  Zona B merupakan zona yang direncanakan untuk pusat pemerintahan. Hal ini diperkuat dengan adanya gedung-gedung pemerintahan, seperti kantor Bupati, Kantor Bappeda, kantor DPRD dan sebagainya.
• Zona C merupakan zona yang akan dikembangkan untuk kawasan pariwisata dan budaya. Hal ini dikarenakan pada zona ini terdapat peninggalan bersejarah seperti Masjid Jami Sultan Nata, Istana Al Mukarramah dan komplek keraton.

Kabupaten Sintang sudah mempunyai 8 masterplan konsep infrastruktur, yang terdiri dari RTRW, water front city, utilitas, taman kota (RTH), transportasi, sampah, limbah, dan air bersih. Selanjutnya akan disusun RDTR di Kecamatan Sintang dengan luas 20% dari luas kecamatan.

Lahan di sekitar Bandara Tebelian (bandara yang baru dibangun dan terletak diluar kota, yang direncanakan untuk menggantikan bandara eksisting yaitu Bandara Susilo) sudah dikuasai swasta, sehingga pembebasan lahannya sulit dan sangat mahal.

Perencanaan masterplan water front city harus memperhatikan lingkungan sekitarnya yang terkena dampak pembangunan. Pembangunan water front city biasanya malah mempersempit badan air sungai. Ketika air pasang, harus dipikirkan kemana air akan dialirkan sehingga tidak terjadi banjir pada titik-titik tertentu. Kajian hidrologi pada kawasan water front harus dilakukan secara mendalam.
Sungai Kapuas dan Sungai Melawi memiliki fungsi transportasi. Sehingga ketika konsep water front city akan diimplementasikan, fungsi sungai untuk transportasi air juga perlu diperhatikan.

Rencana Aksi Strategis yang direncanakan akan dilakukan Pemerintah Pusat:
o    Penyelenggaraan rapat koordinasi dengan Kementerian/Lembaga.
o    Penyelesaian Master Plan Penataan Kota Sintang.
o    Penyediaan citra satelit/foto udara dan peta skala besar (1:5000).
o    Penyediaan peta P4T (Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah).
o    Bantuan teknis legalisasi RDTR dan Master Plan water front city.
o    Penyusunan Development Plan, DED dan Pemaketan Lelang. (AS, RA)



Menjaga Kawasan Konservasi dengan Rencana Tata Ruang Taman Nasional Kerinci Seblat
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:23:55 WIB, Dibaca : 12 Kali
FGD Kajian Strategi Komunikasi dan Sosialisasi RPJMN 2020 bidang Tata Ruang Pertanahan dan Informasi Geospasial
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:24:18 WIB, Dibaca : 16 Kali
Identifikasi Capaian Pelaksanaan Reforma Agraria di Provinsi Sulawesi Utara
Selasa, 28 Apr 2020, 06:46:21 WIB, Dibaca : 11 Kali

Tuliskan Komentar