Rabu, 25 November 2020, WIB
Breaking News

, 25 Jun 2008, 00:00:00 WIB, 29 View , Kategori : Tataruang

Jakarta, Kompas - Memasuki usia 481 tahun, wajah Jakarta sebagai ibu kota negara semakin warna-warni. Kemajuan teknologi dan pembangunan yang pesat tampak di berbagai sudut kota. Namun, berbagai masalah klasik masih menggelayut.

Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, Sabtu (21/6), mengatakan, sebagai kota yang menyerap 80 persen perputaran uang nasional di dalamnya, Jakarta mempunyai daya tarik yang besar bagi pertumbuhan berbagai jenis bisnis. Pembangunan gedung tinggi untuk mewadahi aktivitas bisnis berlangsung cepat.

Pembangunan itu tidak hanya terjadi di poros utama Jalan Sudirman, Thamrin, Gatot Subroto, dan HR Rasuna Said, tetapi juga merambah ke wilayah Jakarta Selatan yang sebenarnya diarahkan untuk menjadi kawasan hijau dan peresapan air. Harga lahan pun meningkat sehingga pebisnis cenderung mengoptimalisasi lahan dan tidak menyisakannya untuk resapan air.

Menurut Yayat, dalam bidang fisik, Jakarta sudah tidak dapat lagi menggunakan strategi pertumbuhan karena menurunnya daya dukung alam. Strategi yang harus diterapkan adalah pengendalian dengan mekanisme pengetatan izin. ”Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus benar-benar ketat dalam mengendalikan laju pembangunan agar daerah resapan air tidak terus dikonversi menjadi lahan terbangun. Izin juga tak boleh lagi menjadi instrumen pendapatan karena membuat pejabat cenderung kompromi dengan pengusaha,” kata Yayat.

Ruang terbuka hijau juga harus ditambah untuk memperbaiki kualitas udara dan air tanah. Jika lingkungan terus buruk, kesehatan warga juga akan turun dan daya saing kota memburuk.

Pasar modern yang menguasai bisnis ritel turut mewarnai Ibu Kota. Memanfaatkan kelemahan pasar tradisional yang becek, bau, panas, dan sempit, para pengusaha nasional dan asing memasuki bisnis perdagangan eceran dengan modal gedung yang dingin, mewah, luas, dan tempat parkir yang nyaman.

Mereka bukan hanya menguasai lokasi strategis, tetapi juga menciptakan waralaba ukuran kecil sehingga dapat menembus kampung.

Secara ekonomi, aktivitas sebagian pebisnis Jakarta malah mematikan ekonomi rakyat. Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia Wilayah Jakarta, Hasan Basri, mengatakan, pasar-pasar modern yang didirikan di tengah kota telah mematikan banyak pedagang tradisional.

”Ada tujuh pasar tradisional yang mati akibat serangan pasar modern, dua pasar lainnya tengah sekarat. Selain itu, ada 15.000 pedagang yang hengkang dari pasar karena tidak ada pembeli lagi,” ujar Hasan.

Aneka fasilitas hiburan dan rekreasi bagi warga, baik pada siang maupun malam hari, juga tumbuh tidak terkendali.

Bahkan, di kawasan permukiman, seperti Kemang dan Tebet, rumah tinggal sudah berganti menjadi restoran, kafe, dan tempat hiburan lainnya meskipun sebagian besar tanpa izin resmi. Jakarta menjadi kian semerawut.

Data dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta pada 2007 menunjukkan bahwa mobil baru di Jakarta bertambah 269 unit per hari dan sepeda motor bertambah 1.235 unit per hari, sedangkan pertambahan badan jalan hanya 0,01 persen per tahun.

Pengamat transportasi Universitas Trisakti, Trisbiantara, mengatakan, pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang tidak dikendalikan menyebabkan jalanan Jakarta bakal stagnan alias macet total paling lama pada tahun 2014 dan sangat mungkin lebih awal lagi.

Meskipun demikian, hasil jajak pendapat Litbang Kompas, 14-15 Mei 2008, menunjukkan, 46,7 persen responden tetap menganggap Jakarta sebagai provinsi terbaik untuk meniti karier. Sebanyak 16,6 persen responden ingin menjadikan Jakarta sebagai tempat hari tua mereka.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, strategi pengendalian pembangunan, pemberian perlindungan dan kepastian berusaha, dan pembangunan transportasi massal sedang diusahakan sejak awal masa kepemimpinannya. (ECA)



Menjaga Kawasan Konservasi dengan Rencana Tata Ruang Taman Nasional Kerinci Seblat
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:23:55 WIB, Dibaca : 15 Kali
FGD Kajian Strategi Komunikasi dan Sosialisasi RPJMN 2020 bidang Tata Ruang Pertanahan dan Informasi Geospasial
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:24:18 WIB, Dibaca : 19 Kali
Identifikasi Capaian Pelaksanaan Reforma Agraria di Provinsi Sulawesi Utara
Selasa, 28 Apr 2020, 06:46:21 WIB, Dibaca : 14 Kali

Tuliskan Komentar