Senin, 30 November 2020, WIB
Breaking News

, 28 Agu 2008, 00:00:00 WIB, 45 View , Kategori : Tataruang

Kompas, Abad VII Sungai Musi ramai dilayari oleh kapal-kapal dagang. Jantung kehidupan ekonomi berdenyut di sana. Kondisi itu berlangsung hingga Pemerintah Kesultanan Palembang. Begitu besarnya ketergantungan masyarakat akan sungai membuat seorang ahli biologi asal Inggris mengibaratkan, ”Masyarakat Palembang dan Melayu tidak akan berjalan kaki selama masih ada perahu.”

Kutipan yang disampaikan ulang oleh budayawan Sumatera Selatan, Datuk Djohan Hanafiah, itu menunjukkan pentingnya sebuah sungai pada masa lampau. Sebagai kerajaan maritim yang sangat mengandalkan sungai, Sriwijaya ataupun Kesultanan Palembang Darussalam meninggalkan berbagai peninggalan bersejarah di tepi Sungai Musi, sebuah sungai yang mengalir sepanjang 640 kilometer dari hulu ke hilir. Bukti sejarah di tepi sungai inilah yang menjadi penanda sungai menjadi sentra kehidupan pada masa itu.

Di areal pertemuan antara Sungai Batanghari Leko dan Sungai Musi juga terdapat situs Teluk Kijing. Situs di Desa Kijing, Kecamatan Lais, Kabupa- ten Musi Banyuasin, ini digambarkan oleh Westenenk pada tahun 1920 sebagai sebuah situs yang dikelilingi parit.

Situs Binginjungut di Kecamatan Muarakelingi, Kabupaten Musi Rawa, berada di sisi kanan-kiri Sungai Musi. Sejumlah artefak lain yang menunjukkan kejayaan perdagangan pada masa itu, seperti tembikar, keramik, dan manik-manik, juga ditemukan di sekitar situs itu.

Situs Candi Bumiayu yang terletak di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, juga ditemukan di tepi Sungai Lematang.

Kebudayaan maritim di Kerajaan Sriwijaya juga ditandai dengan peninggalan aneka perangkat berlayar, seperti dayung dan sisa-sisa perahu kayu yang diperkirakan berasal dari abad VII sampai XIII.

Pada zaman pra-Sriwijaya, tepi Sungai Musi sudah diincar orang untuk dijadikan permukiman dan pusat kehidupan masyarakat. Sejumlah kayu yang dulu menjadi tonggak rumah ditemukan di tepi sungai itu.

Sungai Musi mempunyai banyak cabang yang bermuara ke Musi. Sebut saja Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Rawas, dan Sungai Lematang. Persimpangan-persimpangan jalan sungai itu memungkinkan kapal masuk ke daerah yang lebih dalam lagi untuk pelbagai kebutuhan. Semakin banyak cabang membuka jalur informasi dan perdagangan.

Oleh karena itulah Sriwijaya menjadi salah satu pusat perdagangan yang ramai dan penting karena kerajaan itu memiliki Sungai Musi yang menjadi urat nadi transportasi dan kehidupan. Barang-barang dari pedalaman juga dibawa menuju Palembang, pusat Kerajaan Sriwijaya, untuk ditukarkan dengan barang yang dibawa kapal-kapal dari luar.

Rekayasa sungai

Teknologi juga dikembangkan di sekitar sungai. Sebut saja rekayasa sungai dengan cara membuat kanal dan kolam kuno di sekitar situs atau permukiman warga. Masyarakat membuat pulau-pulau buatan yang berasal dari pengerukan kanal.

”Masyarakat dulu membuat rekayasa teknologi dengan memikirkan dampaknya. Kendati membuat pulau buatan, mereka tidak menambah atau mengurangi sesuatu yang seharusnya. Pulau buatan yang mereka kerjakan merupakan bagian dari reklamasi sebuah daerah,” tutur Nurhadi Rangkuti, Kepala Balai Arkeologi Palembang.

Reklamasi itu dimaksudkan untuk membuat jalan masuk air dari Sungai Musi ke daerah permukiman masyarakat. Di sinilah upaya masyarakat mengatur pengairan untuk kepentingan mereka. Selain untuk kebutuhan pengairan, pembuatan kanal juga menguntungkan pembuatnya guna mengamankan permukiman dari kemungkinan gangguan pihak asing.

Situs Karanganyar di Palembang menjadi situs penting yang menunjukkan kebolehan teknologi pada masa itu. Situs yang diperkirakan menjadi lokasi keberadaan Dapunta Hyang dan diperkirakan sebagai ibu kota kerajaan itu dikelilingi oleh kanal atau parit buatan yang satu sama lain berhubungan. Di dalam parit buatan itu terdapat kolam buatan. Parit yang terpanjang dikenal dengan sebutan Suak Bujang. Suak Bujang memotong meander Sungai Musi sepanjang 3,3 kilometer.

Bentang alam Musi

Kepala Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Sumatera VIII Mawardi memaparkan, keberadaan Sungai Musi tidak bisa dilepaskan dari wilayah sungai yang terbentang dari daerah pegunungan hingga wilayah hilir. Secara administratif, daerah aliran Sungai Musi termasuk ke Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan. Daerah aliran Sungai Musi mencapai 58.625 kilometer persegi, seluas 56.606 kilometer persegi di antaranya ada di Sumatera Selatan.

Daerah pegunungan di barat laut dan tenggara terdiri atas lembah, lempeng dataran tinggi, dan gunung berapi. Di sinilah air Sungai Musi pertama kali mengalir.

Di bawah daerah pegunungan itu terdapat wilayah peralihan yang terdiri dari sebagian daerah berbukit yang bergelombang dan dataran. Luas wilayah peralihan itu mencapai 40 kilometer.

Selain itu, ada pula wilayah rawa pedalaman yang berfungsi sebagai tanggul alami dari sungai dan rawa lebak. Pada musim hujan, rawa lebak—yang letaknya di bawah permukaan sungai—akan tergenang air.

Di bawah rawa pedalaman terdapat dataran pesisir, terdiri atas dataran rendah sepanjang pantai dan dataran rendah delta sebelah utara yang ditutupi dengan hutan rawa gambut.

Di bagian hilir, Sungai Musi bertemu dengan Sungai Komering. ”Aliran air di pertemuan dua sungai ini rata-rata 2.500 meter kubik per detik. Pada musim kemarau, aliran air sungai sekitar 1.400 meter kubik per detik, sedangkan pada musim hujan aliran sungai meningkat sampai 4.200 meter kubik per detik,” papar Mawardi.

Aliran air dari Sungai Musi dan anak-anak sungai lain mencapai puncak pada bulan Februari sampai Maret. Musim kering terjadi pada bulan Juli hingga September.

Musi kini

Sungai dan laut sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Sumatera Selatan mulai terkikis seiring sejalan dengan kebijakan pembangunan masa Orde Baru. Ketika itu, pembangunan di Indonesia diseragamkan. Pembangunan diarahkan untuk memerhatikan darat ketimbang potensi perairan di negara kepulauan.

Maka, jadilah rumah-rumah mulai berbalik pintu menghadap ke darat dan membelakangi sungai. Sungai kemudian hanya menjadi ”tempat sampah”, mulai dari kotoran manusia, limbah rumah tangga dan pabrik, sisa residu kimia pertanian, hingga tanah yang melorot akibat tidak tertahan lagi oleh tanaman yang sudah lama ditebang.

Perilaku yang tidak mencintai sungai tidak berhenti hanya menjadikan sungai sebagai ”tempat sampah” besar. Daerah tangkapan air di sepanjang Sungai Musi juga ikut jadi korbannya.

Padahal, daerah tangkapan air ini seharusnya dilestarikan untuk menjaga ketersediaan air di Sungai Musi agar tidak merosot pada waktu kering atau berubah menjadi banjir pada waktu turun hujan. Daerah aliran sungai yang terjaga juga akan membantu mengurangi erosi yang akan menyebabkan sedimentasi.

PT Pusri, dalam laporan pada Juli 2008, menyatakan bahwa Sungai Musi mengalami pendangkalan setiap tahun, yang membutuhkan pengerukan untuk mempertahankan kedalaman sungai agar bisa dilalui kapal industri, termasuk kapal milik perusahaan pupuk yang terletak di tepi Sungai Musi.

Pengerukan itu bukan hal main-main karena membutuhkan dana yang besar setiap tahun. Tahun 2005 PT Pelindo II menganggarkan dana senilai Rp 20 miliar untuk pengerukan lumpur di dasar sungai sebanyak 2,5 juta meter kubik. Dana tersebut tidak terpenuhi seluruhnya sehingga pengerukan hanya bisa dilakukan 1,25 juta meter kubik. Pengerukan dilakukan sampai kedalaman 6,5 meter dari tinggi permukaan air terendah (lowest water surface/LWS).

Sebelum pengerukan, sedimentasi menyebabkan kedalaman air tersisa 4,5-5 meter LWS sehingga kapal besar sulit masuk. Kalaupun kapal besar hendak masuk atau keluar dari Musi, nakhoda kapal harus menunggu air pasang naik.

Kendala serupa juga dialami kapal penumpang atau barang yang melayani jalur transportasi antarwilayah di sepanjang Sungai Musi. Mawardi mengatakan, pemanfaatan air pasang naik hanya bisa sekitar enam jam setiap hari.

”Pemerintah daerah perlu konsisten mempertahankan lahan sesuai dengan peruntukannya yang diatur dalam RTRW (rencana tata ruang dan wilayah). Kalau RTRW tidak dipegang betul, yang terjadi adalah maraknya pengalihan lahan hutan yang ada di sepanjang daerah aliran sungai.

Di sinilah ada kebutuhan bagi kepala daerah selaku pemegang kebijakan untuk mempunyai perhatian pada Sungai Musi. Sungai Musi tidak hanya perlu untuk dicitrakan sebagai sungai terpanjang dan terbesar saja atau dikemas hanya lewat slogan yang mengundang pengunjung datang ke sana. Sebagai sebuah upaya untuk merintis kecintaan pada Sungai Musi, memang baik mengampanyekan keindahan Musi.

Akan tetapi, lebih jauh dari itu, Sungai Musi harus memiliki sebuah penataan terpadu lengkap dengan penelitian dan tindakan nyata untuk mengatasi permasalahan yang sudah telanjur kompleks. Bila kebijakan sudah berhasil di Sungai Musi, harapan untuk melestarikan sungai lain yang jaraknya lebih pendek dan daerah tangkapan air lebih sempit bisa lebih mudah dikerjakan.

Sanggupkah Gubernur Sumsel menjawab tantangan ini? (agnes rita sulistyawaty)



Musi Butuh Tindakan Nyata, Bukan Pencitraan
, 28 Agu 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 45 Kali

Tuliskan Komentar