Rabu, 25 November 2020, WIB
Breaking News

, 20 Mei 2015, 00:00:00 WIB, 16 View , Kategori : Tataruang

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Pihak SCDRR-UNDP phase II ini bertujuan untuk menindaklanjuti agar Materi Teknis Revisi Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang berdasarkan Perspektif Pengurangan Risiko Bencana ini dapat digunakan sebagai salah satu masukan bagi revisi standar atau pedoman penataan ruang yang berbasis pengurangan risiko bencana.

Agenda kegiatan dilaksanakan dalam 2 (dua) hari dengan sesi panel dengan kenynote speech dari Direktur Pengurangan Risiko Bencana, BNPB, Liliek Kurniawan dan Direktur Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas, Oswar Mungkasa. Serta presentasi pada hari pertama pagi harinya telah disampaikan oleh 4 (empat) koordinator dari pedoman2 yang sudah ada yaitu (1) Draft Standar Penataan Ruang di Kawasan Rawan Bencana/Pedoman penataan Ruang berbasis Mitigasi Bencana, (2) Draft Pedoman Penydiaan Ruang Evakuasi Bencana, (3) Draft Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Banjir, dan (4) Materi Teknsi Revisi Pedoman Penyusunan RTR berdasarkan perspektif Pengurangan Risiko Bencana. Sedangkan pada sesi siang dilakukan presentasi dari beberapa Pemerintah daerah  sebagai pembelajaran dan contoh baik dari Bappeda/BPBD terkait penataan ruang di kawasan rawan bencana serta penyediaan ruang evakuasi bencana yang berasal dari Bappeda Provinsi Sumatera Utara,  Bappeda Kabupaten Banjarnegara, BPBD Provinsi DI Yogyakarta. Kesemuanya dimoderatori oleh Kasubdit Perencanaan Umum, Kementerian ATR/BPN.

Rencana tata ruang saat ini tidak hanya membutuhkan lokasi mana saja yang termasuk rawan bencana, tetapi juga perlu memasukkan kajian risiko bencana untuk mengidentifikasi kerawanan, tingkat ancamana, tingkat kerentanan dan tingkat kapasitas di suatu wilayah. Oleh karenanya memasukkan upaya pengurangan risiko bencana kedalam penataan ruang harus menjadi prioritas pemerintah dalam rangka memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat serta berpihak pada upaya pelestarian lingkungan hidup.

Oleh karena itu, diharapkan dengan adanya kegiatan integrasi ini, dapat dilakukan uji coba dengan lokasi pilot projectnya dengan melihat daerah yang memiliki indeks kerentanan terhadap bencana yang tinggi. Bersamaan dengan kegiatan ini, juga telah dilakukan koordinasi dengan pihak kabupaten Sinabung terkait penyusunan rencana tata ruang dalam mitigasi bencana. Hal ini bisa menjadi salah satu contoh dari uji coba tersebut.

Berbagai masukan dan saran dari hasil presentasi beberapa pedoman dan presentasi pemerintah daerah tersebut akan ditindaklanjuti oleh Pihak SCDRR Phase II ini dalam tim yang lebih khusus untuk membahas materi dan substansi yang dapat menjadi satu pedoman yang bermanfaat bagi pemerintah pusat, daerah dan para stakeholder penataan ruang dan mitigasi kebencanaan (SY)

 



Menjaga Kawasan Konservasi dengan Rencana Tata Ruang Taman Nasional Kerinci Seblat
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:23:55 WIB, Dibaca : 15 Kali
FGD Kajian Strategi Komunikasi dan Sosialisasi RPJMN 2020 bidang Tata Ruang Pertanahan dan Informasi Geospasial
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:24:18 WIB, Dibaca : 19 Kali
Identifikasi Capaian Pelaksanaan Reforma Agraria di Provinsi Sulawesi Utara
Selasa, 28 Apr 2020, 06:46:21 WIB, Dibaca : 14 Kali

Tuliskan Komentar