Selasa, 24 November 2020, WIB
Breaking News

, 28 Agu 2008, 00:00:00 WIB, 46 View , Kategori : Tataruang

Sungai Musi yang menjadi salah satu alur transportasi masyarakat di Palembang dan beberapa wilayah di Sumatera Selatan terus mengalami kerusakan. Pendangkalan terus terjadi, terutama dipicu kerusakan daerah aliran sungai atau DAS yang menyebabkan erosi. Tanah di tepian sungai tergerus, lalu menumpuk di dasarnya.

Dari data Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) menunjukkan bahwa lahan kritis yang terdapat di wilayah sungai sudah mencapai 1,5 juta hektar atau sekitar 30 persen dari luas hutan yang ada. Sementara persentase lahan kritis menurut sub-DAS yang terbesar terdapat di sub-DAS Lakitan, yakni 41 persen.

Dalam catatan Kompas, kerusakan DAS sebesar 30 persen merupakan data lama sehingga dapat dipastikan tidak ada perbaikan kondisi DAS sejak beberapa tahun terakhir.

Bahkan, saat ini warga Sumsel terancam kehilangan sumber bahan baku air bersih karena ada fenomena pemanasan global saat ini. Pasalnya, pemanasan global menyebabkan permukaan air laut menjadi naik dan menyebabkan air Sungai Musi menjadi asin. Jika hal tersebut terjadi, warga Sumsel bakal kehilangan sumber bahan baku air minum.

Air Sungai Musi terancam menjadi asin jika laju kerusakan DAS yang menjadi daerah tangkapan air tidak dapat ditahan. Air tawar dari hulu Sungai Musi tak mampu mendorong air laut agar tidak masuk ke sungai.

Kondisi saat ini saja Sungai Musi langsung meluap jika air laut pasang. Jadi, kalau tangkapan air berkurang karena DAS rusak dan permukaan laut semakin tinggi akibat pemanasan global, air laut akan semakin jauh masuk ke Sungai Musi.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel Sri Lestari mengatakan, kondisi DAS di hulu Sungai Musi yang makin gundul terdapat di Musirawas, Lahat, dan Pagaralam, sedangkan sejumlah sungai yang jadi hulu atau bermuara ke Sungai Musi adalah Sungai Ogan, Komering, Lematang, Batanghari Leko, Lakitan, dan Sungai Kelimi.

Melihat dari jumlah kerusakan DAS, tampaknya Pemerintah Provinsi Sumsel sudah kewalahan mereboisasi daerah aliran Sungai Musi beserta sembilan anak sungainya. Hal itu disebabkan karena laju kerusakan DAS jauh lebih cepat daripada laju reboisasi yang telah dilakukan pemerintah.

Kondisi DAS Musi sudah sangat kritis. Penyebab dominannya adalah alih fungsi lahan dari hutan rimba menjadi lahan pertanian dan perkebunan.

Memang dilema bagi pemerintah untuk meningkatkan pendapatan dengan membuka lahan-lahan pertanian. Namun, pemerintah seharusnya berfungsi agar rakyat arif dalam mengelola sumber daya alam supaya tidak menuai bencana. (BOY)



Reboisasi Kalah dengan Laju Kerusakan
, 28 Agu 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 46 Kali

Tuliskan Komentar