Selasa, 24 November 2020, WIB
Breaking News

, 20 Agu 2008, 00:00:00 WIB, 41 View , Kategori : Tataruang

Brebes, Kompas - Menyusutnya debit sungai-sungai pada musim kemarau mengakibatkan peningkatan kadar air laut ke dalam sumber air tawar di daratan. Intrusi menjalar masuk dari muara sungai melalui badan sungai. Intrusi ini terus meluas sehingga merusak lahan petani.

”Tidak ada upaya pemerintah mengatasi persoalan ini. Itu sebabnya banyak lahan mengering dan tidak ditanami sepanjang pantura (pantai utara) Jawa ini,” kata buruh tani bawang merah, Darito (40), di Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Brebes, Jawa Tengah, Selasa (19/8). Darito menunjukkan lahan di desanya yang berjarak sekitar 12 kilometer dari garis pantai masih terkena dampak intrusi.

Buruh tani lainnya, Basran (60), yang ditemui di Desa Tengki, Kecamatan Brebes, tidak bisa lagi menanami lahannya yang berjarak sekitar 6 kilometer dari garis pantai. ”Setelah hujan turun, itu pun masih menunggu Januari, baru bisa mulai menanam hanya sampai bulan empat,” ujarnya.

Pada musim kemarau seperti saat ini, hamparan lahan di Jalur Anyer-Panarukan mulai dari Cirebon hingga Brebes banyak yang tidak lagi produktif. Kebutuhan air untuk wilayah Brebes sebenarnya bisa dicukupi dari Kali Pemali. Namun, kadar garamnya justru merusak lahan dan merugikan petani.

Kepala Seksi Pemulihan Kualitas Lingkungan pada Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Brebes Sobawi mengatakan, biaya mengatasi kerusakan lingkungan tidak terjangkau pemerintah. Peningkatan kadar air garam di sungai dapat diatasi dengan membuat bendungan karet di muaranya. Namun, karena keterbatasan dana, hal itu tidak dapat ditempuh.

”Sabuk pengaman (green belt) bakau di pesisir juga nyaris hilang. Padahal ini berfungsi mengurangi intrusi di sepanjang pesisir pantai, tapi upaya memulihkannya tidak murah,” kata Sobawi.

Bangun bendungan

Suroto, penampung bawang merah di Brebes, mengatakan, pemerintah harus menyelamatkan lingkungan lebih dahulu untuk meningkatkan kemampuan ekonomi. Penyelamatan bukan hanya di kawasan pesisir, tetapi juga di daerah tangkapan hujan yang makin kritis yang sekarang menjadi penyebab kekeringan.

”Bangun bendungan karet di muara supaya pertanian pesisir bisa produktif lagi. Kalau tidak diselamatkan, luas lahan tidak produktif dari tahun ke tahun terus meningkat terkena intrusi air laut dan pendapatan ekonomi dari sektor ini makin berkurang,” kata Suroto.

Data Balai Besar Cimanuk Cisanggarung di Cirebon dari pengawasan Bendung Rentang awal Agustus 2008 menunjukkan debit air menyusut sampai 8 meter kubik per detik. Pada musim kemarau sebelumnya rata-rata debit sampai 20 meter kubik per detik dan di musim hujan 56 meter kubik per detik.

”Ada persoalan lain yaitu banyak endapan lumpur di bendung ini,” kata Joko Suwondo, Juru Pengawasan Bendung Rentang.

Narsan dari Bagian Operasi dan Pengolahan Data Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Cimanuk-Cisanggarung mengakui, persawahan yang terairi di musim kemarau hanya di daerah hulu.

Galing (42), petani asal Desa Bunder, Kecamatan Susukan, Cirebon, Jawa Barat, mengatakan, musim panen sekarang dia hanya panen 3 ton gabah kering dari sawah seluas 1 bahu (0,74 hektar). Musim kemarau tahun lalu ia mendapat 4 ton gabah. (nit/nel/naw)



Intrusi Terus Meluas
, 20 Agu 2008, 00:00:00 WIB, Dibaca : 41 Kali

Tuliskan Komentar