Sabtu, 28 November 2020, WIB
Breaking News

, 26 Agu 2014, 00:00:00 WIB, 17 View , Kategori : Tataruang

Negara-negara di Asia Pasifik saat ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat besar yang berdampak pada turunnya angka kemiskinan ekstrem di negara tersebut. Namun, hal tersebut dirasa sudah tidak sesuai mengingat angka kemiskinan menggunakan angka $1,25. Angka tersebut perlu dinaikkan menjadi $1,51 mengingat kawasan Asia Pasifik menghadapi kerentanan pangan, serta kerawanan berbagai resiko seperti bencana alam, perubahan iklim dan lain sebagainya. Dengan menaikkan angka kemiskinan maka jumlah warga miskin otomatis akan meningkat. Untuk itu perlu dipersiapkan kebijakan yang tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mampu mengurangi kerawanan pangan serta kerentanan terhadap berbagai resiko.

Hal tersebut disampaikan pada acara seminar dan peluncuran buku Key Indicators for Asia and the Pasific 2014, pada tanggal 20 Agustus 2014, di Bappenas. Tujuan seminar ini adalah menyampaikan hasil studi yang dilakukan oleh ADB untuk memperkaya indikator kemiskinan dalam rancangan teknokratik RPJMN 2015-2019 serta peluncuran buku “Key Indicators for Asia and the Pasific 2014” yang merupakan hasil publikasi dari ADB mengenai tabel analisis dan statistik sasaran pembangunan millenium (MDG’s) yang fokus membahas tentang arah dan laju kemiskinan di Asia Pasifik.

Laju pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik yang pesat menyebabkan penurunan tingkat kemiskinan yang drastis di Asia Pasifik. Tingkat kemiskinan ekstrem turun dari 54,7% pada 1990 menjadi 20,7% pada Tahun 2010 sehingga dengan tren angka tersebut maka kemiskinan ekstrem di Asia akan berhasil diberantas sampai angka 1,4% di tahun 2030. Namun banyak yang berpendapat bahwa dengan angka garis kemiskinan $1,25 yang dipergunakan saat ini sudah tidak memadai karena kurang memperhitungkan biaya yang diperlukan kelompok miskin untuk mempertahankan standar kehidupan minimum. Hal ini akan jauh lebih sulit bila terjadi kerawanan pangan, kerentanan bencana alam, perubahan iklim, krisis ekonomi, dan guncangan lainnya. Untuk itu angka garis kemiskinan di Asia yang ideal diperkirakan sebesar $1,51/orang/hari.

Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, maka diperlukan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi kerawanan pangan serta kerentanan terhadap berbagai resiko. Di Indonesia, angka kemiskinan mengalami penurunan namun tingkat kesenjangan semakin membesar. Hal ini ditandai dengan semakin membesarnya indeks gini dan jumlah warga Indonesia yang berada dalam kerentanan jumlah sekitar 40%. Untuk menghadapi kerentanan tingkat kemiskinan tersebut, beberapa usulan kebijakan yang dikemukaka antara lain sebagai berikut: (i) pengurangan resiko bencana, dan perubahan iklim; (ii) pemberian perlindungan sosial; dan (iii) penganekaragaman sumber pendapatan. (RN)

 



Menjaga Kawasan Konservasi dengan Rencana Tata Ruang Taman Nasional Kerinci Seblat
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:23:55 WIB, Dibaca : 18 Kali
FGD Kajian Strategi Komunikasi dan Sosialisasi RPJMN 2020 bidang Tata Ruang Pertanahan dan Informasi Geospasial
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:24:18 WIB, Dibaca : 20 Kali
Identifikasi Capaian Pelaksanaan Reforma Agraria di Provinsi Sulawesi Utara
Selasa, 28 Apr 2020, 06:46:21 WIB, Dibaca : 14 Kali

Tuliskan Komentar