Senin, 23 November 2020, WIB
Breaking News

, 19 Mar 2014, 00:00:00 WIB, 13 View , Kategori : Tataruang

Jakarta, (11/03), Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan menghadiri kegiatan Kelompok Kerja (Pokja) Penyusunan Perencanaan Nasional Pengelolaan Lahan Rawa Berkelanjutan, di Ruang Rapat Melati Lt.2, Millennium Hotel Sirih Jakarta. Agenda pertemuan meliputi: pembahasan dan sinkronisasi agenda kerja dan mekanisme kerja Pokja 2014, dengan lingkup substansi dan pemantauan daerah (Kalbar, Lalsel, Riau, Jambi, dan Sumsel). Fokus Pokja pada tahun ini adalah penyusunan SNI pemetaan lahan rawa dan fasilitasi pemetaan rawa.

Saat ini sudah tersedia peta indikatif lahan rawa. Peta ini dapat dibagikan dan digunakan. Sejauh ini, Kalbar dan Riau belum menggunakan; Jambi akan menggunakan peta untuk perubahan RTR; dan Sumsel sudah menggunakan untuk penyusunan RTR. Kesatuan hidrologis dalam RPP pengendalian dan pengelolaan ekosistem gambut belum jelas. Perlu dilakukan kesepakatan dengan BIG untuk informasi geospasial sehingga memudahkan integrasi peta dalam mendukung penyusunan SNI pemetaan rawa dan pelaksanaan PP Rawa.

Terkait dengan penyusunan SNI pemetaan rawa, tugas Pokja, meliputi: 1) menyiapkan rumusan perencanaan nasional pengelolaan lahan rawa berkelanjutan melalui proses pembahasan dan dialog dengan pihak terkait; 2) memfasilitasi proses penyusunan rencana pengelolaan lahan rawa; 3) melakukan koordinasi dan supervisi terhadap kegiatan inventarisasi lahan rawa dan proses penyusunan rencana pengelolaan lahan rawa  yang diselenggarakan donor dan pihak lain; 4) menyiapkan materi dan informasi; 5) membantu pelaksanaan timpelaksana; dan 6) melaporkan kegiatan pokja.

Sementara untuk Bidang Pertanian meliputi: 1) fokus pengelolaan rawa berada di Provinsi Kalbar, Kalsel, Jambi, dan Sulsel; 2) rawa menjadi lahan produksi padi masa depan; 3) Tahun 2014, optimasi lahan ditargetkan 200.000 ha, dan di 2015 akan meningkat; 4) dalam monev kegiatan cetak sawah diperlukan tim terpadu; 5) litbang kementan sudah mengembangkan tanaman yang bertahan di lahan rawa melalui program KATAM RAWA TERPADU dapat merekomendasikan untuk jadwal tanam, varietas, perluasan area; 6) pemanfaatan lahan rawa untuk pertanian meningkatkan indeks penanaman.

Lahan rawa tetap ditulis dalam RPJMN sebagai lahan untuk perluasan. Rawa sebagai lahan masa depan berkelanjutan. Rawa menjadi penyangga produksi pertanian karena di musim kemarau masih terdapat air sehingga bisa produksi. Perihal cetak sawah, prasyaratnya adalah: 1)lahan; 2)air; 3)orang  dan sarana produksi. Namun kemampuan masih terbatas, saat ini masih 400.000ha/tahun dengan target 100.000ha/tahun). Perihal ketahanan pangan model yang digunakan tetap peningkatan produksi, namun juga berusaha untuk menurunkan konsumsi diturunkan (diversifikasi). Untuk Bidang Perikanan, terkait perihal RZWP3K, ada kasus di Probolinggo, dimana terdapat 3 kepentingan dalam satu wilayah (pusat dan daerah), sedangkan keputusan ada di daerah, saat ini belum ada titik temu. Sementara Bidang SDA menyebutkan bahwa 17.4 persen luas area Indonesia adalah rawa. Pihak Kemenhut mengklaim bahwa pihak mereka sudah menginisiasi working group tentang ekosistem Mangrove sesuai dengan perpes 37/2012.

Indikator output yang digunakan sebaiknya tidak lagi menggunakan jumlah peraturan, tapi lebih pada substansi yang telah dicapai dan referensinya dapat dihubungkan ke peraturan-peraturan. Hal-hal yang perlu dipaduserasikan tidak harus sudah berbentuk peraturan, tapi dapat berupa materi teknis dari hasil kajian untuk melengkapi peraturan yang ada.

 Kendala

 Kendala sebagaian besar disebabkan oleh terlambatnya penetapan Perda RTRW. Status RTRW untuk daerah yang menjadi fokus Kementan dan SDA-KemenPU, yakni: 1) Provinsi Jambi sudah Perda; 2)Prov. Kalsel belum Perda, tapi status kehutanan sudah selesa. Permasalahannya, terdapat gap yang besar antara hasil timdu dengan SK Menteri Kehutanan (Menhut) sehingga daerah tidak setuju terhadap SK tersebut. 3) Provinsi Riau dalam proses pengajuan SK Menhut; 4) Provinsi Kalbar dan Provinsi Sumsel sudah selesai status kehutanannya, namun bagian DPCLS masih berproses di DPR). Untuk kawasan-kawasan yang masih bermasalah/terkendala statusnya dapat menggunakan mekanisme holding zone sehingga penetapan Perda RTRW tetap dapat dilakukan.

 Perihal cetak sawah, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan khawatir dengan langkah yang akan ditempuh oleh para pihak yang dikoordinasikan oleh Menko Perekonomian yang menangani ketahanan pangan. Dalam rapat yang kami ikuti untuk penambahan lahan produksi pertanian, sumber lahan baru adalah dari pembebasan kawasan hutan. Asumsi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan saat itu, lahan baru tersebut adalah objek redistribusi tanah yang akan diserahkan kepada petani yang berada di kawasan hutan. Ternyata tidak demikian skemanya. Selain itu, pembebasan lahan juga dibebankan kepada pemerintah daerah, padahal targetnya ditetapkan oleh pemerintah pusat.

 Saat ini pembahasan di BKPRN adalah RTRW Provinsi dan RTRW Kab/Kota dalam posisi akan diserasikan dengan RZWP3K. KKP juga sudah setuju untuk mengarah ke langkah penyerasian. RTRWP dan RTRWK diibaratkan sebagai kanvas dan RZWP3K membatiknya, pernyataan ini dapat dibaca di Buletin TRP. RZWP3K dapat ditetapkan bersama dengan RTRW Prov, Kab/Kota karena berdasarkan daerah administrasi. Untuk mendukung keserasian lebih lanjut, materi pengelolaan rawa bisa masuk dalam RZWP3K dan RTRWP/K.

 Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, berikutnya POKJA merencanakan untuk mengadakan diskusi tata kelola cetak sawah di lahan rawa, pemetaan potensi rawa dan penjelasan mengenai siapa berbuat apa, revitalisasi tambak dan rehabilitasi mangrove dan survei ke daerah. (AY)

 

 



Menjaga Kawasan Konservasi dengan Rencana Tata Ruang Taman Nasional Kerinci Seblat
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:23:55 WIB, Dibaca : 12 Kali
FGD Kajian Strategi Komunikasi dan Sosialisasi RPJMN 2020 bidang Tata Ruang Pertanahan dan Informasi Geospasial
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:24:18 WIB, Dibaca : 16 Kali
Identifikasi Capaian Pelaksanaan Reforma Agraria di Provinsi Sulawesi Utara
Selasa, 28 Apr 2020, 06:46:21 WIB, Dibaca : 11 Kali

Tuliskan Komentar