Rabu, 25 November 2020, WIB
Breaking News

, 28 Jul 2008, 00:00:00 WIB, 14 View , Kategori : Tataruang

Kompas, Bisakah arsitektur kota besar macam Jakarta bermetamorfosa, lebih pro kepada warganya dengan memperbanyak ruang publik? Di tengah karut-marut Jakarta, sekelompok anak muda memanfaatkan kolong jembatan sebagai ruang publik cerdas.

Smart public space itu diciptakan mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Trisakti, Jakarta, di kolong jembatan layang Jalan S Parman, Jakarta, persis di depan kampus mereka—biasanya untuk lahan parkir. Jumat (25/7) lalu lahan kosong itu disulap menjadi ruang pamer, ruang diskusi, juga kantin dengan makanan yang disediakan pedagang kaki lima.

Di ruang publik itu, di sebelah kanan, Anda akan disuguhi sembilan meja pamer. Meja itu untuk memamerkan maket karya alumni Jurusan Arsitektur FTSP Universitas Trisakti, karya mahasiswa dan dosen. Menurut Ardhana Reswari dari Seksi Media Massa, yang dipamerkan adalah maket terbaik.

Pecahan keramik sebagai lantai yang Anda pijak membawa ke pameran foto ”Open Space for Public”.

Apa itu ruang publik? Penasihat senior arsitektur kota Jakarta, M Danisworo, mengatakan, ruang publik adalah ruang yang bisa diakses publik dan terbuka 24 jam tanpa dipungut bayaran. Ruang di mana berbagai bentuk kegiatan publik mengambil tempat.

Yang jadi isu sentral saat ini adalah transformasi sosial budaya dari kehidupan tradisional ke modern yang berlangsung dalam proses urbanisasi. Perlu dicatat, transformasi sosial budaya ini tidak berlangsung dalam ruang hampa, jadi perlu wadah yang berfungsi sebagai katalisator agar proses transformasi berlangsung baik dan lancar.

”Masyarakat kita masih ditandai kontras sosial budaya yang kuat, antara formal dan informal. Kedua sektor ini saling membutuhkan, jangan dilihat sebagai fenomena independen. Karena itu, butuh ruang antara yang akomodatif sebagai jembatan,” kata Danisworo.

Dia mengkritisi jumlah ruang publik di Jakarta yang merosot dalam ukuran, jumlah, dan kualitas. Kondisi ruang publik yang ada pada umumnya tidak layak guna. Lahan di Jakarta merupakan sumber daya langka—jumlah penduduk bertambah, sedangkan luas lahan tetap.

Achmad D Tardiyana dari Program Studi Arsitektur dan Rancang Kota Institut Teknologi Bandung mengkritisi sedikitnya lahan pemerintah untuk ruang publik, rendahnya anggaran pemerintah untuk membangun dan merawat ruang publik, privatisasi pengembangan kota dan ruang publik.

Tidak hanya itu, rendahnya akses ekonomi formal mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi informal di ruang publik. Kesenjangan sosial ekonomi pun sangat tajam. Hal lain adalah pola perilaku warga dalam memperlakukan ruang publik.

Jadi, kapankah Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia bermetamorfosa jadi lebih cantik dan menyediakan lebih banyak ruang publik? Hanya sekadar mimpi? Semoga tidak.... (LOK)



Menjaga Kawasan Konservasi dengan Rencana Tata Ruang Taman Nasional Kerinci Seblat
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:23:55 WIB, Dibaca : 15 Kali
FGD Kajian Strategi Komunikasi dan Sosialisasi RPJMN 2020 bidang Tata Ruang Pertanahan dan Informasi Geospasial
Sabtu, 22 Agu 2020, 11:24:18 WIB, Dibaca : 19 Kali
Identifikasi Capaian Pelaksanaan Reforma Agraria di Provinsi Sulawesi Utara
Selasa, 28 Apr 2020, 06:46:21 WIB, Dibaca : 14 Kali

Tuliskan Komentar