Selasa, 24 November 2020, WIB
Breaking News

, 13 Apr 2009, 00:00:00 WIB, 12 View , Kategori : Tataruang

Tempo, Jakarta identik dengan kesemrawutan. Segudang masalah khas kota di negara berkembang ada di sini, dari kemacetan lalu lintas, polusi--Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2008 menempatkan kota ini dengan tingkat polusi terparah ketiga di dunia--tingginya kriminalitas, hingga banjir pada setiap musim hujan.

Bahkan majalah Business Week menobatkan Jakarta sebagai kota terburuk di dunia setelah Lagos di Nigeria. Salah satu penyebabnya adalah tata ruang kota yang, menurut sejarawan Adolf Heuken, tak pernah menyeluruh dan hanya bersifat tambal sulam.

Seorang peneliti asal Prancis, Jerome Tadie, dalam bukunya Wilayah Kekerasan di Jakarta memberikan gambaran citra Jakarta. Menurut dia, Jakarta adalah kota yang sulit dipahami. Disebut Kota Pelabuhan tapi orang jarang melihat lautnya. Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) menghimpun sekitar 20 juta penduduk, tapi separuhnya menumpuk di Jakarta yang luasnya hanya 660 kilometer persegi. Jalan tol dalam kota tetap membuat arus lalu lintas lancar-macet. Kesan padat dan semrawut itulah, kata dia, yang mencolok mata pendatang begitu tiba di Jakarta.

Kota Jakarta yang bermula di utara perlahan berkembang ke selatan. Akibatnya, daerah resapan air berkurang lantaran tanah di daerah selatan berserat tak seperti utara yang bertanah lempung. "Pemerintah sejak lama sudah mengetahui hal ini, tapi diabaikan," kata Nirwono Joga, pengamat tata kota. Ia menambahkan, di Jakarta Selatan seharusnya hanya 20 persen tanah yang di atasnya boleh dibangun. "Tapi faktanya hampir semuanya sudah terbangun," tuturnya.

Masalah ini diperparah oleh beralih fungsinya sejumlah situ dan ruang terbuka hijau, sehingga setiap tahun banjir kian parah. Apalagi, sekitar 40 persen wilayah Jakarta ada di bawah permukaan air laut. Upaya mendorong perluasan kota ke utara dengan mereklamasi Pantai Utara Jakarta, kata Nirwono, memperburuk kondisi lingkungan Jakarta.

Nirwono menuturkan, saat ini tak ada lagi pusat kota dalam arti yang sebenarnya. Kantor-kantor pemerintah menyebar ke seluruh penjuru Jakarta. Sebaran lokasi tempat perbelanjaan juga tidak jelas. Pasar induk dipindahkan ke Kramat Jati dan banyak pusat perbelanjaan lain dibangun dengan menghimpun pasar, pertokoan, terminal, serta stasiun kereta api, misalnya di Glodok, Senen, Tanah Abang, Jatinegara, Blok M, dan Pasar Minggu.

Kemacetan lalu lintas di pusat keramaian ini memunculkan terjadinya kriminalitas jalanan, seperti pencopetan, penodongan, dan penjambretan. Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, mengatakan perkembangan kota yang tak disertai dengan sarana pendukung yang baik berpotensi meningkatkan jumlah aksi kejahatan.

Kawasan industri juga tersebar, misalnya di Cakung-Cilincing, Pulogadung, dan luar perbatasan kota seperti Tangerang dan Bekasi. Berbagai kegiatan di bidang industri pun mengakibatkan aliran truk secara terus-menerus memenuhi jalan-jalan Jakarta.

Pelanggaran tata ruang jelas terjadi di banyak kawasan seperti Menteng, Kebayoran Baru, dan Kemang. Di Kemang, kawasan permukiman berubah menjadi pertokoan dan perkantoran. Akibatnya, kata Kepala Dinas Tata Ruang Wiriyatmoko, struktur jalan tak sanggup menampung arus kendaraan. Menurut dia, berdasarkan peruntukannya, kawasan itu sebenarnya tetap sebagai permukiman. "Saya tidak pernah memberi izin menjadi kawasan komersial," katanya.

Ari Muhammad dari World Wild Fund Indonesia juga mengkritik kebijakan pemerintah tentang hal tersebut. "Kalau ada yang melanggar tata ruang, cuma diputihkan saja," katanya. Pembangunan di Jakarta seharusnya mengikuti Rencana Tata Ruang dan Wilayah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. "RT dan RW-nya yang berubah-ubah mengakomodasi kepentingan komersial," ujarnya. SOFIAN

PENGANTAR:
Setahun lagi, Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta periode 2005-2010 akan berakhir. Tempo akan menulis berbagai permasalahan yang menyangkut tata ruang Jakarta dalam beberapa tulisan. Berikut ini adalah tulisan pertama.


1619-1807
Jayakarta dikuasai oleh VOC di bawah pimpinan J.P. Coen dan berganti nama menjadi Batavia. Pembangunan dipusatkan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa (Kota Tua sekarang). Struktur dan tata ruang kotanya ada di dalam benteng dan dikelilingi parit. Kota pun berbentuk kotak-kotak atau rectangular yang sering disebut dengan pola papan catur. Kota dibelah oleh berbagai kanal. Pola penataan seperti ini sudah dianggap modern dan efisien dalam pengolahan lingkungan.

1808-1900
Ibu Kota Batavia dipindahkan ke Weltevreden (kawasan Medan Merdeka sekarang) oleh Herman Willem Daendels. Dia membangun Istana (Istana Merdeka), membangun Lapangan Koningsplein (Lapangan Monas), dan mengembangkan wilayah Meester Cornelis (Jatinegara).

Weltevreden ditetapkan sebagai pusat pemerintahan dan permukiman, sedangkan kota lama adalah kawasan perdagangan dan perkantoran. Pada 1873, selain jalur kereta api dalam kota, rel yang menghubungkan Jakarta-Buitenzorg (Bogor) mulai beroperasi. Pada 1885, Pelabuhan Tanjung Priok selesai dibangun. Jakarta terbagi menjadi Kota Atas dan Kota Bawah.

1901-1945
Dari tahun 1911-1921, kanal banjir dibangun untuk mengatasi banjir. Untuk perluasan kota, pemerintah membeli tanah di sekitar Batavia dan menggusur kampung-kampung untuk mendirikan bangunan baru. Sejak politik etis diterapkan, banyak gedung sekolah didirikan di Batavia.

Pola Kota Jakarta melintang sedikit diagonal dari utara ke selatan, agak ke timur sedikit. Ujung utaranya adalah kota lama Batavia. Badannya di sekitar Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Kawasan ini memiliki berbagai macam fungsi (campuran). Awalnya untuk permukiman, lalu berdiri hotel, pertokoan, sekolah, dan kantor.

Kota Atas atau Kota Baru di Weltevreden sebagai pusat pemerintahan mulai berkembang ke selatan, yaitu Gondangdia dan Menteng yang dijadikan kawasan permukiman.

1945-1950
Pada periode ini tak banyak perubahan pada wajah Jakarta.

1950-1965
Soekarno mempermak Jakarta. Ia membangun banyak gedung, dari Monas, Hotel Indonesia, hingga Stadion Senayan. Pada masa ini, Kebayoran Baru dibangun sebagai kawasan permukiman. Ruas jalan utama, yaitu Thamrin dan Sudirman, dibangun untuk menghubungkan pusat kota dengan Kebayoran.

1965-1985
Pembangunan difokuskan pada radius 15 kilometer dari Monas. Bentuk dan struktur kota adalah concentric dan sectoral. Pusat kegiatan ada di pusat lingkaran, sedangkan zona berikutnya berisi permukiman. Tiap zona berkembang sendiri sesuai dengan fungsinya.

1985-2005
Pembangunan meluas ke selatan, tapi perkembangan kota juga diarahkan ke timur dan barat. Konsep struktur kota adalah multiple nuclei dengan pusat kegiatan yang tersebar. Pemerintah mulai mengembangkan enam sentra primer lama dan dua sentra primer baru.

2005-2010
Struktur kota masih menerapkan multiple nuclei dengan sembilan sentra utama dan tiga wilayah pengembangan. Di wilayah Utara, pemerintah akan meneruskan reklamasi pantai utara untuk kawasan komersial dan permukiman. Wilayah tengah dibagi menjadi kawasan pusat sebagai pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa, serta permukiman intensitas tinggi.

Kawasan barat dijadikan permukiman yang ditunjang dengan pengembangan Sentra Primer Baru Barat. Kawasan timur dijadikan wilayah industri dan pergudangan yang ditunjang dengan pengembangan Sentra Primer Baru Timur. Sedangkan wilayah selatan dijadikan permukiman terbatas dan daerah serapan air.

SUMBER: DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER
SOFIAN




Semrawut dari Masa ke Masa
, 13 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 12 Kali

Tuliskan Komentar