Selasa, 24 November 2020, WIB
Breaking News

, 06 Apr 2009, 00:00:00 WIB, 13 View , Kategori : Tataruang

Kompas, Jebolnya Situ Gintung mengentak semua pihak bahwa mereka hidup di tengah ancaman. Jumlah situ yang menimbulkan ancaman bencana itu bukan satu atau dua, tetapi bisa puluhan, dan lokasinya hanya di seputar kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok.

Ironisnya lagi, situ yang paling berpotensi menimbulkan bencana itu bukan di tengah hutan, di lereng gunung, atau di daerah yang sepi penduduk. Namun, situ itu justru ada di tengah permukiman padat.

Situ Pendongkelan seluas 6 hektar di Kelurahan Tugu, Cimanggis, Depok, misalnya, adalah situ yang kini keberadaannya dikepung permukiman padat. Di sekitar situ tinggal sekitar 2.500 warga. Gawatnya, perbedaan ketinggian antara permukiman dan tanggul Situ Pendongkelan bervariasi 10 sampai 20 meter.

Agus (30), warga Kelurahan Tugu, mengatakan, tanggul Situ Pendongkelan pernah jebol disusul dengan terjadinya banjir bandang pada 1984. ”Namun, tak sampai ada korban jiwa. Waktu itu di bawah tanggul masih berupa tanah kosong dan kebun, belum ada banyak rumah seperti sekarang,” katanya.

Saat ini, di sekitar Situ Pendongkelan sudah amat padat. Situ ini pun berlokasi tak jauh dari Jalan Raya Bogor, pusat industri PT Panasonic Manufacturing Indonesia, dan pabrik retsleting milik PT YKK.

Selain Situ Pedongkelan, Situ Lumbu yang berada di Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, kini juga tak jelas rimbanya. Situ seluas 23.440 meter persegi itu lenyap diuruk sampah.

”Dulu ini adalah situ. Tetapi sudah empat tahun ini situ jadi tempat pembuangan sampah,” kata Risin (70), warga sekitar Situ Lumbu, Sabtu (4/4).

Tanggul yang ada di Situ Ciledug, Pamulang, Tangerang Selatan, kondisinya relatif lebih baik. Tanggul itu hanya ada di tepi Jalan Siliwangi dan sekitarnya. Dari badan jalan, tinggi tanggul mencapai sekitar 1 meter, sedangkan dari tepi situ, tinggi tanggul mencapai 1,5 sampai 2 meter.

Secara umum, konstruksi tanggul masih kokoh. Terdapat beberapa retakan rambut di badan tanggul. Lapisan semen di bagian bawah tanggul yang menghadap jalan banyak yang rusak. Di sisi selatan situ, ada tanggul yang ambles dan belum diperbaiki.

Selain di kawasan yang memiliki tanggul, Situ Ciledug berbatasan langsung dengan tanah yang lebih tinggi. Beberapa bangunan komersial dan banyak rumah, baik milik penduduk asli maupun perumahan yang dibangun pengembang, ada di tepi Situ Ciledug dengan jarak kurang dari 50 meter.

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 63/PRT/1993 dan Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang No 8/1994, garis sempadan danau atau situ mencapai 50 meter. Garis sempadan situ adalah kawasan tertentu di sekeliling situ yang mempunyai manfaat penting untuk menjaga kelestarian situ sehingga tidak boleh didirikan bangunan di atasnya.

”Dulu, kawasan yang lebih rendah 3 meter dari Situ Ciledug itu adalah persawahan. Kini, kawasan itu sudah menjadi perumahan dan rawan banjir jika situ ini meluap,” kata Asmad, warga Kelurahan Pondok Benda yang tinggal di tepi Situ Ciledug.

Lenyap

Secara keseluruhan, Kota Tangerang memiliki sembilan situ dengan luas seluruhnya 257 hektar. Namun, kini yang tersisa hanya enam situ dengan luas 152 hektar. Artinya ada penyusutan luas areal sebanyak 41 persen.

Situ-situ yang lenyap adalah Situ Kompeni seluas 70 hektar di Kelurahan Rawa Bokor, Kecamatan Benda, yang berubah menjadi jalan tol Bandara Internasional Soekarno-Hatta; Situ Plawad seluas 6,5 hektar di Kecamatan Cipondoh lenyap tanpa bekas; dan Situ Kambing di Kecamatan Karang Tengah berubah fungsi menjadi kantor dan lapangan olahraga.

Situ yang masih ada di Kota Tangerang adalah Situ Cipondoh (142 hektar) di Kecamatan Cipondoh dan Kecamatan Pinang; Situ Gede (6,8 hektar) di Kelurahan Cikokol, Kecamatan Tangerang; Situ Cangkring (6 ha) dan Situ Bulakan (30 ha) di Kecamatan Periuk; serta Situ Kunciran (3 ha) dan Situ Bojong (3 ha) di Kecamatan Pinang.

Hilangnya situ berpotensi menimbulkan banjir yang lebih luas dengan kondisi menggenang yang lebih lama dari sebelumnya. Kondisi seperti itu diakui Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Dadang Durachman.

Fakta ini terlihat jelas pada saat banjir di Kota Tangerang pada kurun waktu 1994-2007. Pada tahun 1994, jumlah lokasi banjir tercatat 18 titik dengan ketinggian 100 cm. Pada tahun 2000 jumlah genangan banjir ada pada 49 titik dengan ketinggian 250 cm dan lama genangan selama 72 jam di lahan seluas 248,85 hektar.

Tahun 2002, genangan di Kota Tangerang ada di 67 titik dengan ketinggian 300 cm selama 72 jam. Tahun 2007, banjir di Kota Tangerang ada di 63 titik di 13 kecamatan dengan ketinggian 300 cm dengan waktu 48 jam dan satu minggu, dengan luasan 518,50 hektar.

Situ merupakan bagian dari daerah aliran sungai yang berfungsi sebagai tempat penampungan air untuk mengendalikan banjir dan konservasi sumber daya air, atau menjadi pemasok air tanah. Situ juga dikembangkan sebagai tempat rekreasi.

Namun, situ juga berperan sangat penting sebagai daerah parkir air untuk mengurangi banyaknya air limpasan atau menahan laju air.

Apabila penanganan situ yang merupakan bagian dari harmoni alam ini tak arif, bukan mustahil bencana Situ Gintung bakal terulang. Pemerintah, masyarakat, dan para pelaku bisnis seharusnya memahami itu semua.

Pilihannya tinggal dua, mengedepankan kepentingan sesaat untuk mengejar kepentingan ekonomi dengan mengokupasi lahan dan mengabaikan perawatan, hasilnya tersapu air bah. Kedua, taat asas pada hukum dan tata ruang serta menjaga harmonisasi alam. (muk/eca/cok/ksp)



Mengabaikan Tata Ruang Berbuah Bencana
, 08 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 13 Kali
Perkembangan Kota Tidak Terkontrol Akibat Pelanggaran Tata Ruang
, 08 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 15 Kali
Menyidik Sanksi Pidana Pelanggaran Tata Ruang
, 06 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 13 Kali

Tuliskan Komentar