Senin, 23 November 2020, WIB
Breaking News

, 06 Apr 2009, 00:00:00 WIB, 16 View , Kategori : Tataruang

JAKARTA -- Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) menyatakan, telah terjadi pelanggaran penataan ruang dalam tragedi jebolnya waduk Situ Gintung, Kelurahan Cireundeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Pernyataan ini merupakan hasil analisis tim KLH saat di lapangan, Sabtu pekan lalu, atau sehari setelah jebolnya tanggul Situ Gintung yang menelan korban tewas 100 orang dan 70-an hilang.

''Memang ada pelanggaran penataan ruang dan juga pelanggaran UU No 23/1997 tentang Lingkungan Hidup,'' ujar Deputi Bidang Penegakan dan Penataan Hukum KLH, Ilyas Asaad, di Jakarta.

Menurut Ilyas, fungsi Situ Gintung sebenarnya adalah sebagai lahan resapan air. Selain itu, ada juga peraturan daerah tentang batas terdekat pendirian bangunan dari situ, yakni 50 meter agar tak ada bangunan perumahan.
''Banyaknya perumahan di pinggir situ tentu ada persoalan di tingkat daerah,'' ujar Ilyas.

KLH, kata Ilyas, tak masuk dalam persoalan izin mendirikan bangunan. Apalagi, polisi sudah melakukan penyelidikan. Namum, KLH memang berwenang dalam menindaklanjuti pelanggaran lingkungan.

''Tapi, soal tata ruang itu adalah domain departemen teknis, yakni Departemen PU (Pekerjaan Umum). Kami sedang mempersiapkan rekomendasi tentang dugaan adanya pelanggaran itu dan saat ini juga sedang disiapkan inpres (instruksi presiden) tentang pengelolaan situ,'' tegas Ilyas.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Kota Tangerang Selatan, Edi Malomda, telah diperiksa Polda Metro Jaya terkait tragedi Situ Gintung. Namun, status Edi bukan saksi atau tersangka, tapi sebagai pihak yang dimintai keterangan polisi saja.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, AKBP Chryashnanda, kemarin, mengatakan, kedatangan Edi bukan dalam rangka penyelidikan atau penyidikan untuk pengungkapan kasus, tapi hanya untuk tukar informasi soal kejadian itu. ''Dia datang ke sini karena sebagai mitra polisi untuk diajak diskusi dan berbagi informasi soal kejadian itu. Polisi kan tidak ahli soal itu, makanya menggali keterangan dari dia seputar keahlian yang dimiliki,'' katanya.

Ketika dihubungi per telepon, Edi mengaku telah datang ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya untuk memberikan keterangan seputar kejadian pascabencana itu. Polisi berencana memanggil sejumlah pejabat Tangerang lainnya terkait dengan Tragedi Situ Gintung.

Stagnasi hukum

Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Bambang Prabowo, menyatakan, penegakan hukum lingkungan saat ini berada pada posisi stagnasi yang terlalu lama. Hal ini terjadi karena buruknya implementasi dari aturan yang diterbitkan.

''Penegakan hukum lingkungan hanya sekadar mengutamakan instrumen command and control,'' ujar Bambang.

Supaya kasus serupa tak terulang, menurut dia, perlu ada kesinambungan antara upaya preventif, pre-empetif, dan represif. ''Perlu juga adanya pemahaman scientific evidence oleh aparat penegak hukum,'' katanya.

Direktur Eksekutif Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Rino Subagyo, juga menyatakan, pengadilan perdata soal lingkungan belum mampu memberikan kontribusi terhadap pemulihan hak masyarakat yang dilanggar dan upaya-upaya mitigasi. Adapun pengadilan pidana, belum memberikan efek jera.

Dari 33 tindak pidana yang telah ditangani KLH dan diputus oleh pengadilan serta berkekuatan hukum tetap, sekitar 56 persen atau 19 kasus terdakwanya dihukum sangat ringan. ''Alias hukuman percobaan,'' ungkap Rino.

Kondisi tersebut, terjadi karena perbedaan persepsi dan rendahnya koordinasi di antara aparat penegak hukum terkait. ''Juga, lemahnya pengetahuan teknis dan integritas aparat penegak hukum dan ketiadaan akses informasi dan partisipasi yang menyebabkan kontrol eksternal menjadi tidak efektif,'' jelasnya. eye/zam/ant



Mengabaikan Tata Ruang Berbuah Bencana
, 08 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 13 Kali
Perkembangan Kota Tidak Terkontrol Akibat Pelanggaran Tata Ruang
, 08 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 15 Kali
Menyidik Sanksi Pidana Pelanggaran Tata Ruang
, 06 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 13 Kali

Tuliskan Komentar