Minggu, 29 November 2020, WIB
Breaking News

, 30 Mar 2009, 00:00:00 WIB, 16 View , Kategori : Tataruang

Jakarta, Kompas - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memeriksa ulang semua situ dan tanggul di Jakarta untuk memastikan agar musibah seperti yang terjadi pada peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung tidak terulang. Saat ini semua tanggul dalam kondisi baik dan tidak ada situ yang berpotensi menimbulkan banjir bandang.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, di Balaikota DKI Jakarta, memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta memeriksa semua tanggul dan situ di Jakarta. Musim hujan yang masih berlangsung harus diwaspadai agar Jakarta tidak dilanda musibah serupa.

”Saya sudah memerintahkan Dinas PU untuk cek dan ricek sejak pagi tadi,” kata Fauzi.

Kepala Dinas PU DKI Jakarta Budi Widiantoro mengatakan, tanggul sungai dan tanggul situ di Jakarta dirawat dan dipantau rutin oleh kepala seksi PU di setiap kecamatan. Hasil pemeriksaan dilaporkan setiap bulan.

Berdasarkan hasil laporan pemeriksaan terakhir, kata Budi, semua tanggul dalam kondisi baik dan tidak rawan jebol.

”Situ-situ di Jakarta relatif tidak terlalu membahayakan warga sekitarnya. Tanggul yang masih rawan jebol hanya tanggul laut, bukan tanggul situ dan sungai,” kata Budi.

Menurut Budi, jarak antara tanggul situ di Jakarta dan tanah sekitarnya maksimal hanya 4 meter sehingga kecepatan luapan air tidak akan tinggi. Air dari situ-situ di Jakarta dapat meluap dan menyebabkan banjir, tetapi bukan banjir bandang yang mempunyai daya rusak hebat seperti Situ Gintung.

Kepala Bidang Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas PU DKI Jakarta Fahrurrozi mengatakan, pihaknya sedang membangun tanggul tambahan pada 20 situ di Jakarta. Pembangunan diperkirakan selesai akhir tahun 2009. Di sisi lain, pembangunan tanggul tambahan pada enam situ sudah selesai.

Menurut Fahrurrozi, tanggul-tanggul sungai dan situ di Jakarta masih baru dan belum berusia puluhan tahun sehingga konstruksinya masih kuat. Dinas PU juga menyediakan dana pemeliharaan tanggul Rp 1 miliar setiap tahun.

Untuk mengintensifkan pengawasan, kata Fahrurrozi, pihaknya mengumpulkan pegawai terkait untuk pengarahan agar memantau tanggul secara intensif. Pemantauan di lokasi akan dilakukan setiap hari sehingga laporan yang masuk pun selalu baru. Setiap petugas pintu air juga akan mengatur ketinggian air supaya tidak meluap dan melaporkan ketinggian air ke atasan setiap hari.

Situ di Bogor

Luapan Situ Gintung juga menyebabkan banjir di Perumahan Budi Pratama, Jakarta Barat, tetapi tidak menyebabkan kerusakan parah.

Di wilayah Kabupaten Bogor ada 93 situ atau danau dengan luas genangan 512,06 hektar. Sebanyak 15 situ dalam keadaan rusak. Adapun di Kota Bogor ada 6 situ yang rawan penyerobotan lahan. Namun, kondisi semua situ aman bagi lingkungan sekitarnya.

”Rata-rata lahan permukiman warga lebih tinggi dari lahan situ. Kalaupun ada yang lebih rendah, jaraknya paling dekat 500 meter dari tepi situ. Jadi, situ di sini relatif aman,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bogor Yani Hasan.

Menurut Yani, kerusakan pada situ berupa kerusakan pintu airnya atau pendangkalan akibat endapan lumpur dan gulma. Kerusakan situ yang cukup parah adalah di Situ Kemang karena dinding pintu airnya bobol pada pekan lalu. Dindingnya yang jebol sepanjang 15 meter dengan tinggi 12 meter.

”Kami juga tidak tahu mengapa sampai jebol. Padahal, ketebalan pinggir setu sampai 4 meter. Sekarang sudah ditangani olek KSDA (konservasi sumber daya alam) provinsi,” katanya.

Mengenai satu situ di Jonggol yang kini sudah menjadi lapangan, Yani Hasan mengatakan, pihaknya belum mengetahui jelas status situ maupun kepemilikan lahannya, apakah situ tersebut sebetulnya genangan air atau memang benar-benar situ alam.

Sementara itu, Wakil Bupati Tangerang Rano Karno saat melihat evakuasi korban jebolnya tanggul Situ Gintung di STIE Ahmad Dahlan menjelaskan, tahun ini Situ Gintung direncanakan akan diturap.

”Selain Situ Gintung, ada 12 situ lain di Tangerang yang juga direncanakan akan diturap mulai tahun ini. Tetapi ini program Pemerintah Provinsi Banten, sementara kami hanya sebagai pemilik wilayah tempat situ-situ itu,” ujarnya.(ECA/RTS/PIN)



Mengabaikan Tata Ruang Berbuah Bencana
, 08 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 15 Kali
Perkembangan Kota Tidak Terkontrol Akibat Pelanggaran Tata Ruang
, 08 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 18 Kali
Menyidik Sanksi Pidana Pelanggaran Tata Ruang
, 06 Apr 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 16 Kali

Tuliskan Komentar