Sabtu, 28 November 2020, WIB
Breaking News

, 05 Mar 2009, 00:00:00 WIB, 20 View , Kategori : Tataruang

Serang, Kompas - Meski sudah lebih dari satu tahun terbentuk, kondisi Kota Serang masih semrawut dan belum tertata rapi. Bahkan, Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Serang baru disahkan pada Rabu (4/3).

Berdasarkan pantauan, sejak Kota Serang terbentuk pada 2 November 2007, pembangunan rumah toko (ruko) semakin marak. Maraknya pembangunan ruko salah satunya terlihat di jalan Cipocok Jaya dan Curug, dari Jalan Bayangkara hingga Jalan Raya Petir.

Terdapat sedikitnya 10 kompleks ruko baru di dua wilayah kecamatan itu. Bahkan, banyak pula bangunan baru yang digunakan sebagai klinik, rumah pribadi, bengkel mebel, dan juga tempat penampungan sekaligus penjualan ayam potong.

Kondisi serupa terlihat di sepanjang Jalan Fatah Hasan, dari perempatan Cijawa hingga Ciceri. Ada lebih dari tiga bangunan baru, termasuk satu kompleks ruko, yang belum selesai dibangun.

Kesemrawutan juga masih terlihat di kawasan Royal dan Pasar Lama, yang merupakan pusat bisnis dan perdagangan. Ruas jalan di kawasan itu masih dipenuhi pedagang kaki lima sehingga arus lalu lintas selalu terganggu.

Kawasan itu juga tidak memiliki lahan parkir sehingga separuh badan jalan digunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Selain itu, jalan khusus becak yang disebut becak way juga kerap digunakan sebagai tempat parkir sekaligus tempat mangkal pedagang kaki lima.

Kesemrawutan kawasan Royal dan Pasar Lama itu pun menjadi sorotan Fraksi Golkar dalam rapat paripurna pengesahan Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Serang di gedung DPRD, kemarin. ”Sekarang masih banyak pedagang kaki lima yang berjualan di tepi jalan sehingga kawasan Royal dan Pasar Lama terlihat semrawut. Jalan yang menyempit menambah kawasan itu semakin acak-acakan,” kata Sobriah, juru bicara Fraksi Golkar.

Oleh karena itu, dia berharap pengesahan RTRW akan membuat Pemerintah Kota Serang lebih tegas untuk menata kawasan Royal dan Pasar Lama. Selain itu, dia juga berharap Pemerintah Kota dapat mengembangkan potensi yang ada, seperti potensi cagar budaya Banten Lama.

Harapan senada diungkapkan juru bicara Fraksi Ukhuwah, Rohana. RTRW diharapkan bisa mengatur pembangunan fisik di sepanjang jalan protokol. Jangan sampai jalan protokol kota semakin jenuh dengan banyaknya bangunan yang didirikan.

Sementara itu, dalam Raperda RTRW disebutkan, Kota Serang dibagi menjadi lima wilayah pengembangan (WP). Sebagian besar, yakni empat dari lima WP, akan dikembangkan sebagai kawasan perdagangan dan jasa, yakni WP Tengah (Kecamatan Serang dan Cipocok Jaya), WP Barat (Taktakan), WP Timur (Walantaka), dan WP Selatan (Curug). Sedangkan WP Utara yang terdiri dari Kecamatan Kasemen akan dikembangkan menjadi kawasan pariwisata, pertanian lahan basah, perikanan, dan perkebunan.

Selain perdagangan dan jasa, WP Barat juga akan dikembangkan sebagai wilayah resapan air, agropolitan, agrobisnis, pertanian, dan perumahan. WP Tengah juga diarahkan sebagai kawasan pemerintahan dan pendidikan. Sedangkan perumahan skala besar akan diarahkan untuk dibangun di WP Timur dan Selatan. (NTA)



Kota Serang Masih Semrawut, Rencana Tata Ruang Disahkan
, 05 Mar 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 20 Kali
Optimalisasi Pelayanan Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang dengan Konsep RTRW-Net
, 06 Feb 2009, 00:00:00 WIB, Dibaca : 33 Kali

Tuliskan Komentar